Rabu, 28 Oktober 2015

Sebentar

Tak semua hal harus berguna dan berfaedah. “makan permen karet sambil menyanyi juga tak ada manfaatnya. Tapi toh tetap saja dilakukan.” Kegembiraan kecil, kesenangan remeh-temeh, rasa suka cita yang walaupun hanya hadir sekejap, tidak pernah sia-sia.

Hari sabtu dan minggu kemarin saya pulang ke kampung halaman. Tidak banyak aktvitas di rumah. Tapi, bisa bertemu dengan keluarga walaupun hanya sebentar, itu sudah jadi kebahagiaan tersendiri.
Hari Sabtu, malamnya saya menghadiri acara pertunjukan seni di salah satu kampus terbesar di Jember, Jawa Timur. Saya diajak teman saya, sendirian. Awalnya saya ingin mendokumentasikan acara itu dalam muatan berita. Tapi, saat acara berlangsung, tidak boleh ada perangkat gawai yang hidup untuk sekadar “memotret”. Alhasil, saya matikan HP dan fokus hanya untuk menonton pertunjukan monolog itu. Saya hanya duduk dan menikmatinya.



Kamis, 22 Oktober 2015

Melihat

Cara kita melihat sesuatu pastilah berbeda, walaupun objek yang dilihat itu sama. Dari melihat, kita mendapatkan yang kasat mata dan mendapatkan yang tak ditangkap oleh mata, persepsi!
Tulisan ini sebenarnya terinspirasi dari salah satu iklan rokok yang terpampang pada papan reklame pertigaan suatu jalan, yang setiap harinya saya melewati jalan itu untuk pergi-pulang kantor.

Poster iklan rokok itu digambarkan ada tiga orang pemuda yang sedang tertawa dengan background sebuah kota yang penuh sesak gedung pinggir pantai. Gambar itu bertuliskan “Ubah caramu melihat dunia”. Entah tulisan itu dimaksudkan apa oleh sang pembuat poster. Tapi sengaja tidak sengaja, ketika saya lewat pertigaan jalan tersebut, pandangan mata saya tersita papan reklame yang cukup besar itu. Dan secara sengaja atau tidak sengaja pula, pikiran saya secara refleks membaca tulisan itu. Setiap hari!

Setiap pagi, setiap sore. Setiap jam pergi-pulang kantor.  Saya semacam dipaksa membaca tulisan poster iklan itu. Padahal si pembuat poster juga tidak memerintahkan setiap orang yang melintasi reklame itu untuk membacanya, misal dengan keterangan “Penting, Wajib Dibaca”. Tetap saja saya dan banyak orang yang lain membacanya. Hhe..

Lama-kelamaan, karena saya mengonsumsi tulisan itu dua kali sehari, tulisan itu semacam telah jadi sugesti. “Ubah caramu melihat dunia”.

Setiap hari kok disuruh mengubah cara melihat? Papan reklame tempat poster itu juga tetap sama, tetap akan disitu tidak berpindah. Pertama, saya nggak sepakat sama tulisan itu. Memangnya cara saya melihat kenapa? Ada yang salah sehingga kudu saya ubah? Papan reklame itu hanya terdiam terpaku di tempatnya. (Hanya diskusi imajiner) Hhe..

Dari diskusi imajiner itulah, saya jadi harus mencari jawabannya sendiri. Memang masalah, biasanya timbul sebab oleh cara pandang kita sendiri. Kita jarang melihat dengan “apa adanya”. Misalnya, saya pernah marah di salah satu SPBU ketika sedang antre mengisi bensin. Saat itu, di SPBU terjadi antrean yang mengular sampai jalan raya, dan pada saat giliran kendaraan saya, tiba-tiba seorang perempuan nyelonong dari samping kanan saya nyelip masuk ke barisan antrean depan saya. Bagaimana nggak jengkel, lah wong  lainnya setia antre di belakang, orang ini seenaknya nggak mau antre. Lalu orang itu saya tegur. Mbak-mbak SPBU nya juga saya tegur. Tapi mereka berdua semacam menutup kupingnya. Sontak, pengendara yang antre di belakang saya juga teriak, mereka memperhatikan saya. Seolah menyuruh saya melabrak dua cewek itu. Tapi mbak-mbak itu tetap saja tidak memperdulikan saya dan yang lain. Dan begitu cepat, orang di depan saya itu langsung pergi cepat-cepat setelah kendaraannya terisi. Assemm..

Ya, banyak manusia yang melihat secara tidak apa adanya. Saya termasuk orang pendendam kala itu. Saya sulit melupakan kesalahan orang lain yang membuat saya marah. Sekalipun dia telah meminta maaf. Orang yang nyelonong  itu termasuk orang yang cara melihatnya dengan tidak apa adanya, ia nggak peduli sama antrean. Nggak punya rasa malu dan penghormatan terhadap hak orang lain. Artinya dia juga tidak bisa menghormati dirinya sendiri.

Mbak petugas SPBU, setali tiga uang dengan orang nyelonong itu. Tidak bisa melihat dengan apa adanya. Ia tidak memperhatikan antrean, siapa yang lebih dulu dan yang harus didahulukan. Ah mungkin dia petugas baru, jadi belum diajari bagaimana menghadapi pelanggan.
Atas kejadian itu, saya kesal sekali. Kalaupun saya diberi kesempatan membalasnya, saya kepengen  orang yang nyelonong itu ada di posisi saya yang diserobot saat antrean, dan yang menyerobot adalah saya sendiri. Ah, artinya kalau saya seperti itu, apa bedanya dengan cewek tadi.
Bayangkan kalau misalnya anda di posisi saya? Apakah wajar jika tak emosi?

Di sisi lain, ternyata cara saya melihat dunia juga tidak dengan apa adanya. Saya tidak melihat, mungkin orang yang nyelonong tadi sedang panik, buru-buru untuk urusan yang sangat mendesak, misalnya mengantarkan keluarganya yang sedang sekarat, sehingga dia tidak memerdulikan panjangnya antrean, termasuk tidak memerdulikan ocehan saya. Mungkin mbak petugas SPBU saat itu sedang nggak konsentrasi, karena berjaga sendirian sedangkan dia harus melayani dua sisi antara sepeda motor dan mobil secara bergantian. Sehingga dia tidak memerhatikan saya yang seharusnya menurut antrean harusnya lebih didahulukan ketimbang orang yang nyerobot tadi. Memang saya tidak melihat kemungkinan-kemungkinan yang  tidak terlihat itu. Yang tampak oleh mata saya saat itu, adalah ketidakbenaran terjadi, kezaliman (sesuatu yang tidak pada tempatnya) sedang terjadi dan patut diluruskan. Maka saya tidak boleh diam.

Akhirnya saya harus melihat dengan apa adanya. Inilah realitas. Sesuatu yag tidak kita harapakan bisa terjadi. Mau tidak mau, senang tidak senang saya harus menerimanya. Jika saya menolaknya, masalah akan timbul. Saya sakit hati, dendam dan masalah itu bisa jadi penyakit.

Dari situ saya mulai dilatih bagaimana mengubah cara melihat dunia. Melihat dunia dengan apa adanya.

Lalu, bagaimana cara sampeyan melihat dunia?




Rabu, 21 Oktober 2015

Cerita

Cerita yang terikat pada suatu bendalah yang membuat benda menjadi lebih berharga. Cerita tentang suatu hubungan yang terekam benda lah yang membuat kita lebih bahagia.

Karena ada ceritanya, seorang penggemar Michael Jackson rela merogoh kocek cukup dalam untuk hanya membeli kaos bekas rajanya musik pop itu di suatu lelang. Saya yakin, tentu harganya jauh lebih mahal dengan harga kaos baru termahal di pasar swalayan. Hhe.. 
Karena Soekarno menyejarah, orang-orang rela berburu barang peninggalannya untuk dikoleksi sebab bernilai ekonomis tinggi, atau hanya sekadar disimpan sebagai pembahagia jiwa.

Saya punya kawan yang suka mengoleksi tanda tangan musisi favoritnya. Tentu karena musisi itu punya cerita. Dan kawan saya itu tau ceritanya. Ia bahkan rela pergi jauh dengan ongkos yang tidak murah, membeli tiket sampai berdesakan agar bisa meminta tanda tangan musisi itu. Mungkin, bagi orang lain yang tidak mengerti ceritanya, kegiatan itu dianggap hanya menghabiskan uang saja.

Begitu kira-kira kekuatan cerita. Nah, saya juga mau cerita tentang gelang dan jam tangan saya ini. Mungkin kata orang, ini barang kesayangan saya, tapi saya sebenarnya tidak punya barang seperti itu.

Ada cerita yang membuat saya tetap memakai jam dan gelang ini. Minggu kemarin saya ke tukang servis jam tangan. Saya ditawari jam baru yang mirip jam ini ketika saya ingin mengganti karet pengaitnya yang putus. Saya pikir, eman kalau misalnya beli lagi yang baru kalau jam ini masih hidup, cuma karetnya yang putus akibat lapuk. Belum lagi, jam ini jadi istimewa karena sebelum pergelangan tangan saya, ada pergelangan tangan orang lain yang sempat jadi tuannya. Ya, jam ini saya beli dari kawan; perempuan; kakak tingkat; mentor saya saat masih jadi calon staf magang lembaga pers kampus. Hhe..
Kebetulan pas saya pinjam, dia bilang kalau mau beli jam baru, karena jam ini jarumnya sudah rusak. Jadi tinggal jam digitalnya saja yang berfungsi. Lalu saya tawar agar dijual dengan harga murah, karena saat itu, saya membutuhkan jam tangan tapi lagi nggak punya uang. Alhamdulillah boleh.. Hha..
Kondisinya sekarang sudah kusam, terakhir saya mengganti baterai dan karetnya. Walaupun begitu, jam ini menyimpan banyak cerita di balik perjalanan saya dan angka digitalnya.

Kedua, gelang ini adalah pemberian kawan saya sebagai oleh-oleh dari Lombok saat ia ke Rinjani. Awalnya saya nggak suka pakai gelang, tapi karena untuk menghargai kawan saya, akhirnya saya pakai. Lalu, entah kenapa saya sekarang jadi lebih percaya diri saja saat menggambar dengan memakai gelang ini. Apa itu juga karena kekuatan cerita? Hhe..
Suwun bro..

Bagaimana dengan barang kesayangan anda? Apakah yang membuat lebih berharga juga karena ceritanya?