“Sesungguhnya manusia benar-benar dalam keruian.” Seingatku aku hafal ayat ini sejak kelas 3 SD
saat aku mulai belajar mengaji di TPA. Tapi aku baru menyadarinya, berusaha
memahaminya mungkin beberapa hari yang lalu saja. Aku membaca kembali pesan
itu. Pesan dari sang pemilik jagat raya ini. Aku mengeja kembali, semakin
kuulangi semakin merinding bulu kudukku berdiri, jiwa ini bergetar. Pesan itu
telak menusuk masuk dalam pikiran dan hati. Jiwa ini menangis. Menundukkan
kepala seraya meminta ampunan. Aku merasa telah menyia-nyiakan waktu yang telah
diberikan oleh-Nya selama ini. Pesan itu semakin dalam terasa saat kumulai
bosan dengan kesibukan duniawi semata. Rutinitas yang tiada habisnya,
menjemukan tanpa makna. Dibalut hening malam itu aku pergi, pergi ke jauh batas
ambang waktu yang pernah aku lewati. Diri ini semakin tua, kulit ini pun mulai
mengeriput, mata sudah tak sebening dulu, tubuh ini mulai rusak dan pasti akan
rusak, kebalikan dari itu, hanya pikiran dan hati yang besar yang selalu tumbuh
dan berkembang semakin matang seiring dengan berjalannya waktu. Itu soal
pilihan kawan!
Mulai ku sasak ingatanku yang
paling jauh yang bisa aku ingat. Aku melihat diriku digendong ayahku melewati
kebun belakang rumah menuju ke rumah kakek. Dan aku baru tahu kalau saat itu
ayahku mau pergi ke negeri malaka. Bertaruh nasib disana demi aku dan keluarga.
Dan baru aku tahu bahwa ssat itu ayahku naik perahu kecil menuju kesana
berbulan-bulan mengarungi lautan bertarung dengan ombak yang kapan saja bisa
menenggelamkannya. Tak ada modal. Hanya modal nekat. Cerita itu aku dapati saat
usia 17an ketika itu ayah sendiri yang cerita. Entah kenapa memori itu yang
paling aku ingat, selain pemandangan diriku merangkak di halaman rumah data itu
hujan ditemani ibuku yang menjagaku. Tapi aku yakin ada pengait yang kuat
sehingga potret itu sangat jelas aku ingat dan aku bisa lihat kapan saja.
Mungkin saat itu perasaanku terlibat disana, aku yakin anak usia 4 tahun yang
belum mengerti apa-apa tahu kalau dia ingin ditinggal jauh oleh ayahnya di
negeri sebrang. Walaupun aku tak ingat perkataan ayah saat dia pamit berangkat
tapi perasaan itu kuat selayaknya hubungan bapak-anak.
Sebuah perjalanan kilas balik
yang tentunya menggetarkan jiwaku. Waktu telah mengajari, tentang kedewasaan. Sebuah
proses belajar yang tidak bisa singkat. Dua puluh tahun lalu aku dilahirkan ke
dunia ini. Semua ini tentang perjalanan pergi dan pulang. Setiap manusia yang
dilahirkan dia juga pasti kembali pulang. Saat ini aku sedang menempuh
perjalanan pulang itu. Perjalanan yang terus maju, tidak bisa diulang, yah
begitu cepat waktu berjalan sampai aku tak bisa mengikutinya. Akhirnya aku
tetap berjalan pelan, walau pelan aku tak pernah melangkah kebelakang. “I’m a slow walker, but I never step
backwards.” Mungkin ungkapan A. Lincoln itu mewakili sikapku kali ini. Kalaupun
cara jalanku tidak bisa dibilang pelan, mungkin bisa dikata sedikit
tergesa-gesa itu karena aku tidak mau rugi, masih banyak yang harus aku
lakukan, saking banyaknya seakan dua puluh empat jam sehari terasa kurang. Itu juga
soal pilihan kawan!
***
Pernahkah kamu bahagia karena
banyak orang disekeliling yang menyayangimu, jika iya beruntunglah kamu. Maka bersyukurlah
kepada sang pemilik waktu. Itulah aku. Aku termasuk orang beruntung itu.
12 April 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar