Rabu, 16 April 2014

Sadarkah: Diri ini Semakin Menua



             “Sesungguhnya manusia benar-benar dalam keruian.”  Seingatku aku hafal ayat ini sejak kelas 3 SD saat aku mulai belajar mengaji di TPA. Tapi aku baru menyadarinya, berusaha memahaminya mungkin beberapa hari yang lalu saja. Aku membaca kembali pesan itu. Pesan dari sang pemilik jagat raya ini. Aku mengeja kembali, semakin kuulangi semakin merinding bulu kudukku berdiri, jiwa ini bergetar. Pesan itu telak menusuk masuk dalam pikiran dan hati. Jiwa ini menangis. Menundukkan kepala seraya meminta ampunan. Aku merasa telah menyia-nyiakan waktu yang telah diberikan oleh-Nya selama ini. Pesan itu semakin dalam terasa saat kumulai bosan dengan kesibukan duniawi semata. Rutinitas yang tiada habisnya, menjemukan tanpa makna. Dibalut hening malam itu aku pergi, pergi ke jauh batas ambang waktu yang pernah aku lewati. Diri ini semakin tua, kulit ini pun mulai mengeriput, mata sudah tak sebening dulu, tubuh ini mulai rusak dan pasti akan rusak, kebalikan dari itu, hanya pikiran dan hati yang besar yang selalu tumbuh dan berkembang semakin matang seiring dengan berjalannya waktu. Itu soal pilihan kawan!

             Mulai ku sasak ingatanku yang paling jauh yang bisa aku ingat. Aku melihat diriku digendong ayahku melewati kebun belakang rumah menuju ke rumah kakek. Dan aku baru tahu kalau saat itu ayahku mau pergi ke negeri malaka. Bertaruh nasib disana demi aku dan keluarga. Dan baru aku tahu bahwa ssat itu ayahku naik perahu kecil menuju kesana berbulan-bulan mengarungi lautan bertarung dengan ombak yang kapan saja bisa menenggelamkannya. Tak ada modal. Hanya modal nekat. Cerita itu aku dapati saat usia 17an ketika itu ayah sendiri yang cerita. Entah kenapa memori itu yang paling aku ingat, selain pemandangan diriku merangkak di halaman rumah data itu hujan ditemani ibuku yang menjagaku. Tapi aku yakin ada pengait yang kuat sehingga potret itu sangat jelas aku ingat dan aku bisa lihat kapan saja. Mungkin saat itu perasaanku terlibat disana, aku yakin anak usia 4 tahun yang belum mengerti apa-apa tahu kalau dia ingin ditinggal jauh oleh ayahnya di negeri sebrang. Walaupun aku tak ingat perkataan ayah saat dia pamit berangkat tapi perasaan itu kuat selayaknya hubungan bapak-anak.

         Sebuah perjalanan kilas balik yang tentunya menggetarkan jiwaku. Waktu telah mengajari, tentang kedewasaan. Sebuah proses belajar yang tidak bisa singkat. Dua puluh tahun lalu aku dilahirkan ke dunia ini. Semua ini tentang perjalanan pergi dan pulang. Setiap manusia yang dilahirkan dia juga pasti kembali pulang. Saat ini aku sedang menempuh perjalanan pulang itu. Perjalanan yang terus maju, tidak bisa diulang, yah begitu cepat waktu berjalan sampai aku tak bisa mengikutinya. Akhirnya aku tetap berjalan pelan, walau pelan aku tak pernah melangkah kebelakang. “I’m a slow walker, but I never step backwards.” Mungkin ungkapan A. Lincoln itu mewakili sikapku kali ini. Kalaupun cara jalanku tidak bisa dibilang pelan, mungkin bisa dikata sedikit tergesa-gesa itu karena aku tidak mau rugi, masih banyak yang harus aku lakukan, saking banyaknya seakan dua puluh empat jam sehari terasa kurang. Itu juga soal pilihan kawan!
***
           Pernahkah kamu bahagia karena banyak orang disekeliling yang menyayangimu, jika iya beruntunglah kamu. Maka bersyukurlah kepada sang pemilik waktu. Itulah aku. Aku termasuk orang beruntung itu.

12 April 2014


Tidak ada komentar:

Posting Komentar