Jumat, 29 Agustus 2014

Memberi hadiah kepada diri sendiri

            Siapa yang tidak suka diberi hadiah? Saya kira tidak ada. Hadiah tidak hanya digunakan untuk memotivasi anak kecil, hadiah juga efektif digunakan untuk orang dewasa. Hadiah tidak melulu  berasal dari orang lain kok. Hadiah juga bisa dari diri sendiri untuk diri kita sendiri.
Saat ini saya sedang belajar menulis. Metode yang saya gunakan yakni menggunakan sebuah mantra hebat yang saya buat sendiri. Begini mantra yang saya ucapkan beberapa hari yang lalu itu. “Saya harus  menulis setiap harinya, apabila saya tidak menulis sama sekali dalam sehari, saya harus membayar uang sebesar sepuluh ribu rupiah. Dan apabila saya menulis, saya mendapat uang lima ribu rupiah dari diri saya sendiri.” Hi hi hi.. mantra seperti itu umumnya disebut sebagai afirmasi. Afirmasi dapat diartikan sebagai mantra atau sugesti diri. Dengan kata lain bermakna berkomunikasi kepada driri sendiri dengan penuh perasaan dan emosi. Oke, kita kritisi dulu mantra saya itu tadi. Pertanyaannya, uang untuk membayar itu darimana? lalu, kalau lagi nggak punya uang bagaimana?
Ah Sudahlah. Itu urusan saya! Hi hi hi..

Tentunya nanti uang itu bukan untuk saya konsumsi, uang itu saya taruh di dua toples. Yakni satu toples hukuman dan satu toples untuk hadiah. Keinginan saya kalau nanti toples itu sudah penuh, saya tukarkan dengan kamera digital atau yang lebih baik dari itu.  Aminggo! Sekali dayung dua-tiga pulau terlampaui. Punya kebiasaan menulis dan dapat kamera pula. Mungkin itu terjadi setahun dua tahun mendatang atau bahkan lebih. Yang pasti, saat saya mulai menulis dengan baik. Saya yakin, pada waktu itu saya akan menertawakan tulisan-tulisan  seperti ini.  Saya ingin tau perubahan apa yang telah saya lakukan mengenai tulisan saya.
“Iso jalaran soko kulino.” Artinya, bisa karena terbiasa. Begitu pepatah jawa bilang. Kira-kira begini yang saya maksud. Kalau anda ingin bisa menulis, maka terbiasalah menulis. Kalau anda ingin bisa kaya, terbiasalah bersedekah! Kemudian menabunglah. Kok bersedekah?. Ya kan itu ciri-ciri orang kaya, logikanya kalau merasa kaya, ia suka berbagi karena ia telah merasa cukup. Kalau merasa kurang, ia laiknya orang miskin yang selalu kekurangan. Pepatah itu singkat padat dan luas sekali maknanya ya. Lalu, Kalau ingin bisa jadi penulis yang kaya? Sepertinya saya harus tanya dulu ke orang yang sudah seperti itu. Hi hi hi..





Tidak ada komentar:

Posting Komentar