Kamis, 26 Desember 2013

Menjadi pembaca



           Buku catatan itu, catatan kisah kebersamaan, perjalanan waktu sebuah sejarah tetua-tetua DIANNS. Buku itu yang kemudian membuat gatal tangan saya untuk menulis ini. Secara tidak sengaja memang karena waktu libur tahun baru ini mungkin saya alih profesi sebagai pembaca, sudah saya persiapkan buku-buku yang nantinya harus  saya makan untuk mengisi liburan kali ini sebelum pulkam (pulang kampung) sehingga membuat muatan baju yang biasa dalam tas ransel itu tergeser ruangnya karena terisi dengan buku. Bukan berwisata jalan-jalan bersama teman-teman yang saya pilih, tapi entah mengapa ada keinginan hati saja untuk berwisata pikiran melalui membaca buku. 


            Tak sengaja saya pikir mana buku yang akan saya baca duluan, buku filsafat, nasihat agama, atau buku kuliah?, namun setelah saya bongkar tas itu di kediaman nenek (soalnya saya gak langsung pulang ke rumah) ada buku kecil warna kuning nuansa klasik itu. “Mengapa saya tidak baca yang kecil-kecil duluan?, itung-itung sebagai pemanasan wisata pikiran” dalam hati saya. Sekilas ada cerita menarik teringat ketika saya mendapatkan buku itu. Ada momen disana yang mungkin tidak akan saya lupakan, saya mendapat buku itu secara Cuma-Cuma. Tepatnya buku itu adalah pemberian dari salah satu teman dan sekaligus penulisnya. Buku itu diberikan kepada saya sebagai bentuk apresiasi terhadap desain sampul buku tersebut yang saya buat. Awalnya ketika saya diminta untuk membuat gambar ilustrasi buku itu menerima begitu saja dan saya buat dengan santai. Tak ada rasa yang lebih, sama seperti saya membuat gambar ilustrasi seperti biasanya. Tapi, saat temen saya memberi buku itu, “Nih Rul, apresiasi buat kamu. Makasih ya buat gambar sampulnya” Kata temen saya. Ada sesuatu kesan tersendiri di hati saya ketika saya mengamati buku itu. Gimana ya menjelaskannya.. sebab itu gambar ilustrasi pertama saya yang digunakan dalam media buku. Ditambah perasaan bangga dan terkesan saya bahkan lupa kalau di dalamnya juga masih ada beberapa gambar ilustrasi yang saya buat.
            Buku kecil itu seolah bercerita kepada saya selama kurang lebih 4 jam saat saya membacanya. Tentang catatan tulisan jurnalis mahasiswa di organisasi yang saya kini juga menjadi bagian didalamnya. Banyak cerita disana tentang petuah, nasihat, keluhan, rasa sakit, perjuangan, idealisme, serta renungan. Mulai dari tulisan para senior atau saya menyebutnya Tetua DIANNS yang puitis hingga ungkapan Jiancok ada disitu. Mulai kisah perjuangan, pemberontakan sampai romantisme kehidupan yang manusiawi ada disitu. Cerita pesimistis, optimisme dan harapan menjadi inspirasi bagi saya kedepannya dalam melanjutkan perjalanan cerita itu. “Biarlah setiap generasi mengukir sejarahnya sendiri” itulah secuil kutipan dari buku itu yang bercerita kepada saya sore itu.
            Dari cerita buku itu, saya menyimak bahwa ada hal yang saya cari selama ini dalam hidup yang menurut saya ada dalam cerita buku itu. Sebuah proses pendewasaan diri, terdapat kisah disana yang bisa menjadi cerminan saya kedepan. Pelajaran yang mungkin tidak akan saya dapatkan dari membaca buku materi kuliah. Saya baru meyakini bahwa setiap pertemuan selalu terdapat maksud di dalamnya. Dengan kata lain setiap pertemuan itu sebenarnya adalah by design dari Tuhan. Seperti pertemuan saya dengan buku itu.
Saya bukan seorang sastrawan, hanya sedang belajar menjadi diri sendiri. Belajar menulis dari membaca dan terus menulis dari menjadi pembaca.

2 komentar: