Buku catatan itu, catatan kisah
kebersamaan, perjalanan waktu sebuah sejarah tetua-tetua DIANNS. Buku itu yang
kemudian membuat gatal tangan saya untuk menulis ini. Secara tidak sengaja
memang karena waktu libur tahun baru ini mungkin saya alih profesi sebagai
pembaca, sudah saya persiapkan buku-buku yang nantinya harus saya makan untuk
mengisi liburan kali ini sebelum pulkam (pulang kampung) sehingga membuat muatan baju yang biasa dalam tas ransel itu
tergeser ruangnya karena terisi dengan buku. Bukan berwisata jalan-jalan
bersama teman-teman yang saya pilih, tapi entah mengapa ada keinginan hati saja
untuk berwisata pikiran melalui membaca buku.
Tak sengaja saya pikir mana buku
yang akan saya baca duluan, buku filsafat, nasihat agama, atau buku kuliah?,
namun setelah saya bongkar tas itu di kediaman nenek (soalnya saya gak langsung
pulang ke rumah) ada buku kecil warna kuning nuansa klasik itu. “Mengapa saya
tidak baca yang kecil-kecil duluan?, itung-itung sebagai pemanasan wisata
pikiran” dalam hati saya. Sekilas ada cerita menarik teringat ketika saya
mendapatkan buku itu. Ada momen disana yang mungkin tidak akan saya lupakan,
saya mendapat buku itu secara Cuma-Cuma. Tepatnya buku itu adalah pemberian
dari salah satu teman dan sekaligus penulisnya. Buku itu diberikan kepada saya
sebagai bentuk apresiasi terhadap desain sampul buku tersebut yang saya buat.
Awalnya ketika saya diminta untuk membuat gambar ilustrasi buku itu menerima
begitu saja dan saya buat dengan santai. Tak ada rasa yang lebih, sama seperti
saya membuat gambar ilustrasi seperti biasanya. Tapi, saat temen saya memberi
buku itu, “Nih Rul, apresiasi buat kamu. Makasih ya buat gambar sampulnya” Kata
temen saya. Ada sesuatu kesan tersendiri di hati saya ketika saya mengamati buku
itu. Gimana ya menjelaskannya.. sebab itu gambar ilustrasi pertama saya yang
digunakan dalam media buku. Ditambah perasaan bangga dan terkesan saya bahkan
lupa kalau di dalamnya juga masih ada beberapa gambar ilustrasi yang saya buat.
Buku kecil itu seolah bercerita
kepada saya selama kurang lebih 4 jam saat saya membacanya. Tentang catatan
tulisan jurnalis mahasiswa di organisasi yang saya kini juga menjadi bagian
didalamnya. Banyak cerita disana tentang petuah, nasihat, keluhan, rasa sakit,
perjuangan, idealisme, serta renungan. Mulai dari tulisan para senior atau saya
menyebutnya Tetua DIANNS yang puitis hingga ungkapan Jiancok ada disitu. Mulai
kisah perjuangan, pemberontakan sampai romantisme kehidupan yang manusiawi ada
disitu. Cerita pesimistis, optimisme dan harapan menjadi inspirasi bagi saya
kedepannya dalam melanjutkan perjalanan cerita itu. “Biarlah setiap generasi
mengukir sejarahnya sendiri” itulah secuil kutipan dari buku itu yang bercerita
kepada saya sore itu.
Dari cerita buku itu, saya menyimak
bahwa ada hal yang saya cari selama ini dalam hidup yang menurut saya ada dalam
cerita buku itu. Sebuah proses pendewasaan diri, terdapat kisah disana yang
bisa menjadi cerminan saya kedepan. Pelajaran yang mungkin tidak akan saya
dapatkan dari membaca buku materi kuliah. Saya baru meyakini bahwa setiap
pertemuan selalu terdapat maksud di dalamnya. Dengan kata lain setiap pertemuan
itu sebenarnya adalah by design dari
Tuhan. Seperti pertemuan saya dengan buku itu.
Saya bukan seorang sastrawan, hanya sedang
belajar menjadi diri sendiri. Belajar menulis dari membaca dan terus menulis dari
menjadi pembaca.
tambah jos ae kang???
BalasHapuslanjut
Siaapp Pak !
BalasHapus