Bulan ini bakal ada peringatan sakral tahunan untuk
mensyukuri alam kemerdekan. Peringatannya, mau diisi dengan apa?
Kalau waktu kecil saya dulu, di kampung saya biasa ada lomba
panjat pinang, balap karung, makan krupuk dan yang paling sering saya menang
adalah lomba gigitin uang koin yang menancap pada buah semangka hitam (diolesi
oli). Hhe.. Saya yakin anak-anak yang lahir generasi 90an mengalaminya juga.
Dari sekian lomba-lomba peringatan kemerdekaan, salah satu yang masih bertahan
hingga sekarang dan makin ditunggu-tunggu adalah karnaval selain tentunya
panjat pinang—lomba yang wajib ada dalam pesta rakyat 17an. Tapi ya kalo
sekarang, stok pohon pinang itu masih banyak? Sepertinya sudah sulit
menemukannya sejalan dengan hilangnya budaya nginang (mengulum buah pinang) orang tua kita dulu.
Karnaval beberapa tahun terakhir menjadi sorotan segala
lapisan masyarakat di daerah saya dan masyarakat luas. Tepatnya Sejak dihelatnya
Jember Fashion Carnival, sebuah peragaan busana terbesar yang dipertontonkan di
jalanan. Tahun ini, adalah tahun ke-15 bagi JFC menjadi ajang berkarya putra-putri
daerah. Seperti tahun-tahun sebelumnya, JFC-15 akan diselenggarakan tanggal
24-28 agustus 2016,kali ini mengangkat tema REVIVAL.
JFC sejak kemunculannya, telah mendekontruksi budaya
karnaval yang selama ini berlangsung di Indonesia. Ia tak hanya menjadi simbol
pembacaan ulang mengenai budaya tinggi dan budaya populer dimana antara aktor
dan penonton tak punya batas yang jelas lagi. Peragaan busana yang selama ini
hanya dilangsungkan diatas catwalk, di JFC semua kalangan bisa menikmatinya
dengan turun di jalanan. Juga bahwa sesuatu yang jadi trend setter tak harus
berasal dari pusat—jakarta. Tampaknya Dynan Fariz telah membuktikannya dengan menggugurkan
pandangan itu lewat JFC dengan segala kebanggaan tentang Jember—sebuah kota
yang jauh dari pusat Jakarta tempat kampung kelahiran saya.
Pengalaman saya waktu nonton JFC dua tahun lalu, yang
mengesankan adalah saya kelelahan saat menemani kawan saya hunting foto. Apa ya
gak dibuat pusing, lah wong di jalanan tempat dilangsungkan JFC, orang-orang
itu bak lautan manusia yang tumpah ke jalan. Jadi kalau mau nonton, mau hunting
foto, disiapkan saja dulu fisik dan staminanya supaya nggak pingsan. Hhe..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar