Rabu, 03 Agustus 2016

Karnaval

Bulan ini bakal ada peringatan sakral tahunan untuk mensyukuri alam kemerdekan. Peringatannya, mau diisi dengan apa?

Kalau waktu kecil saya dulu, di kampung saya biasa ada lomba panjat pinang, balap karung, makan krupuk dan yang paling sering saya menang adalah lomba gigitin uang koin yang menancap pada buah semangka hitam (diolesi oli). Hhe.. Saya yakin anak-anak yang lahir generasi 90an mengalaminya juga. Dari sekian lomba-lomba peringatan kemerdekaan, salah satu yang masih bertahan hingga sekarang dan makin ditunggu-tunggu adalah karnaval selain tentunya panjat pinang—lomba yang wajib ada dalam pesta rakyat 17an. Tapi ya kalo sekarang, stok pohon pinang itu masih banyak? Sepertinya sudah sulit menemukannya sejalan dengan hilangnya budaya nginang (mengulum buah pinang) orang tua kita dulu.

Karnaval beberapa tahun terakhir menjadi sorotan segala lapisan masyarakat di daerah saya dan masyarakat luas. Tepatnya Sejak dihelatnya Jember Fashion Carnival, sebuah peragaan busana terbesar yang dipertontonkan di jalanan. Tahun ini, adalah tahun ke-15 bagi JFC menjadi ajang berkarya putra-putri daerah. Seperti tahun-tahun sebelumnya, JFC-15 akan diselenggarakan tanggal 24-28 agustus 2016,kali ini mengangkat tema REVIVAL.

JFC sejak kemunculannya, telah mendekontruksi budaya karnaval yang selama ini berlangsung di Indonesia. Ia tak hanya menjadi simbol pembacaan ulang mengenai budaya tinggi dan budaya populer dimana antara aktor dan penonton tak punya batas yang jelas lagi. Peragaan busana yang selama ini hanya dilangsungkan diatas catwalk, di JFC semua kalangan bisa menikmatinya dengan turun di jalanan. Juga bahwa sesuatu yang jadi trend setter tak harus berasal dari pusat—jakarta. Tampaknya Dynan Fariz telah membuktikannya dengan menggugurkan pandangan itu lewat JFC dengan segala kebanggaan tentang Jember—sebuah kota yang jauh dari pusat Jakarta tempat kampung kelahiran saya.


Pengalaman saya waktu nonton JFC dua tahun lalu, yang mengesankan adalah saya kelelahan saat menemani kawan saya hunting foto. Apa ya gak dibuat pusing, lah wong di jalanan tempat dilangsungkan JFC, orang-orang itu bak lautan manusia yang tumpah ke jalan. Jadi kalau mau nonton, mau hunting foto, disiapkan saja dulu fisik dan staminanya supaya nggak pingsan. Hhe..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar