Pernah nggak anda diminta oleh orang tua untuk membelikan sesuatu di toko, lalu anda dapat permen sebagai ganti uang kembalian? Hi hi hi.. Saya pernah mengalami hal itu
Tapi pernah terpikir nggak kalau hal semacam itu sebenarnya termasuk bibit Korupsi. Korupsi tingkat warung kelontong. Hhe
Hari ini cerita Supri di film pendek "Boncengan" yang diputar pada acara ACFFest (Anti Corruption Film Festival) di gedung Widyaloka Universitas Brawijaya siang tadi, menginspirasi saya memaknai kejujuran. Di film itu, Si Supri adalah seorang anak SD yang jujur, energik dan lugu. Mata sipit, rambut cepak, mirip anak orang Tiongkok tapi berkulit gelap. Perawakan tubuhnya paling kecil dari teman sebayanya Sayangnya saya lupa nama pembuat film itu, hhe.. Ide ceritanya keren. Ceritanya, sekolah Supri sedang mengadakan lomba lari maraton untuk memperingati hari jadi sekolah. Hadiahnya berupa sepeda BMX yang paling apik se kampung di latar film itu. Ada sekitar sepuluh anak yang mengikuti maraton termasuk Supri.
Sebut saja Siti, teman akrab Supri yang nanti jadi saingan terberatnya, sebab dia sangat terobsesi untuk mendapatkan hadiah utamanya. Saat lomba dimulai, banyak adegan kocak yang ditampilkan, mulai pemegang bendera penanda maraton yang terlambat di angkat saat peluit sudah ditiup, Supri yang dijatuhkan Siti. Jadi di awal, Supri pelari paling terakhir dalam barisan maraton itu. Suasana persaingan kental disitu. Siti memimpin maraton di barisan paling depan. Rute maraton mengelilingi kampung, lewat jalan sawah dan jalan perkampungan. Di tengah kampung, adegan pelari yang dikejar-kejar anjing sempat mengocak isi perut peserta ACFF. Hi hi..
Ada peserta yang kelelahan dan malah beli es di jalan. Teman Supri sebut saja si Gendon berbuat curang karena dibonceng ayahnya saat maraton. Ayah Gendon memang yang menyuruhnya, dan sempat membelikan es peserta yang lain. Huh.. Curang!
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar