Pagi hari ini tell lie vision sempat menggelitik telinga saya, di Gorontalo terdapat seorang siswa
SD yang menjadi tersangka pencurian uang
di dalam sekolahnya. ia kemudian dihukum oleh ibu kepala sekolahnya dengan
ditelanjangi siswa tersebut di tengah lapangan didepan seluruh teman-temannya,
ditambah lagi ibu kepala sekolah itu menyuruh siswa-siswanya itu untuk
menertawakannya. Bahkan penghukuman itu diabadikan melalui kamera dan
foto-fotonya sudah menyebar luas ke ruang publik. Atas kejadian itu orang tua
murid lantas tak terima anaknya dihukum dengan cara itu, maka ia melaporkan
kasus itu ke polisi.
Apakah bentuk hukuman itu pantas
untuk murid SD. Jika memang benar yang dimaksudkan oleh ibu kepala sekolah itu
untuk membuat efek jera terhadap murid, efektifkah jika dengan cara
mempermalukannya di depan kawan-kawannya? Melakukan hukuman kepada anak
seharusnya dipahami bahwa hukuman itu dapat memberikan pelajaran bagi anak. Melatihnya
agar mampu berpikir tenng sebab akibat atau setiap perbuatan yang dilakukan itu
memiliki konsekwensi masing-masing.
Cara ibu kepala sekolah dalam menghukum
disitu saya melihat bahwa kepala sekolah tersebut ingin menanamkan nilai rasa
malu sejak dini yang ujungnya efek jera murid tersebut. Masih berkaitan dengan
tulisan saya sebelumnya tentang nilai rasa malu. Saya setuju dengan apa yang
dilakukan oleh guru tersebut dalam konteks tersebut. Aneh juga kalau orang tua
murid tersebut tidak terima bahkan ia bilang bahwa lebih baik anak saya di
pukul daripada dihukum seperti itu. Perlunya pemahaman juga terhadap orang tua
bagaimana cara mendidik anak, menghukum anak dengan bijak menjadi kunci penting
bagi tumbuh-kembang pola pikir anak. Terkadang hukuman fisik malah tidak
efektif dilakukan untuk membuat efek jera sang anak karena tidak mendidik. Sudah
bukan jamannya lagi menghukum secara fisik, padahal yang seharusnya
dikonstruksi adalah pendidikan terhadap mental.
Terlintas di pikiran saya kalau
cara menghukum tersebut dipakai untuk menghukum para tikus-tikus maling uang
rakyat disana. Mereka perlu dicekoki tentang nilai rasa malu. Bukan serta merta
para koruptor itu di telanjangi di arak-arak menuju di bunderan HI lalu
disaksikan oleh semua orang yang melintas, dan dipublikasikan media secara massif.
Hhe he he he.. jadi pornoaksi nantinya..hhe
Terlepas dari pro kontra masalah
diatas, saya mendukung prinsip cara menghukum seperti itu, karena dewasa ini
berbagai macam bentuk hukuman yang dibuat oleh petinggi negeri ini belum cukup
untuk membuat para koruptor-koruptor semakin sedikit, justru semakin
beranak-pinak dan masalah KKN tak kunjung selesai di negeri ini.
Mungkin hal ini menjadi suatu
pilihan untuk menjawab masalah-masalah klasik di negeri ini, semoga para
petinggi negeri ini masih punya malu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar