Jumat, 21 Maret 2014

Budaya Menghukum; menanamkan rasa malu



         Pagi hari ini tell lie vision sempat menggelitik  telinga saya, di Gorontalo terdapat seorang siswa SD yang menjadi tersangka  pencurian uang di dalam sekolahnya. ia kemudian dihukum oleh ibu kepala sekolahnya dengan ditelanjangi siswa tersebut di tengah lapangan didepan seluruh teman-temannya, ditambah lagi ibu kepala sekolah itu menyuruh siswa-siswanya itu untuk menertawakannya. Bahkan penghukuman itu diabadikan melalui kamera dan foto-fotonya sudah menyebar luas ke ruang publik. Atas kejadian itu orang tua murid lantas tak terima anaknya dihukum dengan cara itu, maka ia melaporkan kasus itu ke polisi.



      Apakah bentuk hukuman itu pantas untuk murid SD. Jika memang benar yang dimaksudkan oleh ibu kepala sekolah itu untuk membuat efek jera terhadap murid, efektifkah jika dengan cara mempermalukannya di depan kawan-kawannya? Melakukan hukuman kepada anak seharusnya dipahami bahwa hukuman itu dapat memberikan pelajaran bagi anak. Melatihnya agar mampu berpikir tenng sebab akibat atau setiap perbuatan yang dilakukan itu memiliki konsekwensi masing-masing. 

      Cara ibu kepala sekolah dalam menghukum disitu saya melihat bahwa kepala sekolah tersebut ingin menanamkan nilai rasa malu sejak dini yang ujungnya efek jera murid tersebut. Masih berkaitan dengan tulisan saya sebelumnya tentang nilai rasa malu. Saya setuju dengan apa yang dilakukan oleh guru tersebut dalam konteks tersebut. Aneh juga kalau orang tua murid tersebut tidak terima bahkan ia bilang bahwa lebih baik anak saya di pukul daripada dihukum seperti itu. Perlunya pemahaman juga terhadap orang tua bagaimana cara mendidik anak, menghukum anak dengan bijak menjadi kunci penting bagi tumbuh-kembang pola pikir anak. Terkadang hukuman fisik malah tidak efektif dilakukan untuk membuat efek jera sang anak karena tidak mendidik. Sudah bukan jamannya lagi menghukum secara fisik, padahal yang seharusnya dikonstruksi adalah pendidikan terhadap mental.

      Terlintas di pikiran saya kalau cara menghukum tersebut dipakai untuk menghukum para tikus-tikus maling uang rakyat disana. Mereka perlu dicekoki tentang nilai rasa malu. Bukan serta merta para koruptor itu di telanjangi di arak-arak menuju di bunderan HI lalu disaksikan oleh semua orang yang melintas, dan dipublikasikan media secara massif. Hhe he he he.. jadi pornoaksi nantinya..hhe

      Terlepas dari pro kontra masalah diatas, saya mendukung prinsip cara menghukum seperti itu, karena dewasa ini berbagai macam bentuk hukuman yang dibuat oleh petinggi negeri ini belum cukup untuk membuat para koruptor-koruptor semakin sedikit, justru semakin beranak-pinak dan masalah KKN tak kunjung selesai di negeri ini.

      Mungkin hal ini menjadi suatu pilihan untuk menjawab masalah-masalah klasik di negeri ini, semoga para petinggi negeri ini masih punya malu.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar