Ada orang yang merasa hidupnya selalu dikejar-kejar waktu. Tidak sabaran menunggu lampu merah berubah jadi hijau ketika di jalan misalnya, sehingga saat masih lampu baru mulai berganti, bunyi klakson sudah bersiul-siulan. Seolah yang belakang berteriak "woy.. Yang depan buruan, gua mau lewat nih". Padahal, toh juga sama saja, ketika lampu hijau, semua pengendara juga akan melaju satu-persatu, walaupun tanpa ada bunyi klakson-klakson itu.
Seringkali kita merasa diburu waktu, seolah waktu selalu habis. Kita sedih, merasa waktu begitu cepat berlalu. Tapi, pernahkah kita berhenti sejenak bertanya, apa sesungguhnya waktu itu?
Konsep waktu tidak sesederhana seperti kita melihat pukul berapa sekarang menurut jam tangan yang ada di pergelangan. Waktu bukanlah gerakan jarum atau angka di jam digital anda. Nah, ternyata ini semua soal pemaknaan kita terhadap konsep waktu.
Dulu, konsep waktu diciptakan manusia untuk mempermudah hidup. Misal, ketika membuat janji dengan orang lain, merencanakan suatu tindakan, atau sebagai penanda suatu peristiwa yang telah terjadi.
Kemudian, mengenai persepsi terhadap waktu. Kemampuan mempersepsi waktu inilah yang membedakan manusia diantara yang lainnya, menunjukkan kualitas bagaimana ia beradaptasi dengan lingkungannya.
Misalnya, saat kita berhadapan dengan kemacetan di jalan, kita akan merasa waktu bergerak sangat lambat. Detik berasa jam.. Hhe
Apalagi jika tujuan kita itu sifatnya urgent. Sebaliknya, saat berlibur, tanpa terasa waktu tiba-tiba habis dan kita harus cepat pulang. Dua hal itu menunjukkan durasi waktu itu bersifat subjektif. Tergantung emosi kita. Kenapa bisa begitu?
Menurut penelitian, persepsi kita terhadap waktu itu dipengaruhi oleh serangkaian proses fisiologis dan kognitif sehingga persepsi kita terhadap waktu itu jadi bias. Menurut Prof Dan Zakay, seorang ahli psiko kognitif, bahwa manusia memiliki kewaspadaan terhadap lintasan waktu yang dipengaruhi tuntutan atensi. Misal, saat kita menghadiri acara yang membosankan, perhatian (atensi) kita terhadap durasi waktu akan menjadi tinggi, kita terfokus pada waktu. Sehingga durasi waktu terasa lebih panjang. Sebaliknya saat kita liburan, kita tidak lagi memberikan atensi yang berlebihan terhadap waktu. Sehingga pagar atensi itu menyempit dan waktu berjalan seakan lebih cepat. Padahal dalam realitas, waktu itu bersifat netral terhadap aktivitas. Aktivitas hanya membutuhkan durasi, durasi itu lalu diukur dengan satuan tempo: detik, menit, jam. Sedangkan "lama atau cepat", itu adalah label yang kita buat sendiri tergantung suasana emosi. Jangan bersedih..
Lalu bagaimana cara kita mempersepsi waktu yang lebih panjang sekaligus menikmati kegiatan tanpa diburu waktu?
Cobalah memberikan atensi pada stimuasi internal (napas) anda, dengan begitu, semoga persepsi kita terhadap waktu menjadi luas. Kita tidak merasa dikejar waktu, sekaligus kita mampu mengalokasikan lebih banyak sumber daya atensi untuk menyelesaikan tugas-tugas kita. Dan kita mampu menikmati selama prosesnya.
Nah, apakah pagi ini anda sedang buru-buru pergi ke kampus/ kantor? Hhe..
Selamat pagi..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar