Selasa, 31 Mei 2016

Tanah Gersang & Tandus

"Dapat tumbuh di tanah yang gersang lagi tandus lebih baik ketimbang tumbuh di tanah yang subur banyak gulma."
Mungkin ungkapan itu cukup untuk menggambarkan kondisi saya ddengan lingkungan saya. Sebuah keyakinan bahwa lingkungan yang serba kekurangan menggembleng mental lebih baik daripada keadaan yang serba berkecukupan.  Bukan berarti yang serba kecukupan itu adalah bukan tantangan bagi penggemblengan diri menuju kematangan berpikir dan bersikap. Tapi, secara reflektif keadaan yang kekurangan itu dapat memacu adrenalin untuk bisa survive di tengah keadaan yang “gersang”.

Ada dua kemungkinan yang bisa terjadi. Pertama,  dapat survive bahkan melejit pada sebuah kemapanan, kemungkinan kedua yakni chaos ketika berhenti dan menyerah pada keadaan.
Manusia ketika dihidupkan dari alam rahim seorang ibu tidak bisa memilih ibu mana yang akan menjadi ibunya. Pun keluarga seperti apa yang sampai mati ia akan tetap tumbuh dalam keluarga itu. Apakah keluarga kaya, atau keluarga yang serba kekurangan (miskin). Ada juga manusia yang, saat dewasa memilih lingkungannya sendiri. Dari yang kaya menjadi yang miskin, dari yang miskin ingin jadi kaya. Dan seterusnya. Toh juga siklus hidup juga seperti roda menggelinding. Kadang posisi kita diatas kadang ada di bawah. Tergantung kita bagaimana menggelindingkan roda itu cepat atau perlahan.

Satu lagi, ada yang berada posisi netral yang bingung menetukan di mana, di lingkungan seperti apa ia akan hidup. Pada posisi ini seorag tersebut tidak bisa harus berada disitu pada waktu yang lama, ia haru s memilih salah satunya. Ibarat pohon, memilih di tempat yang gersang atau yang basah penuh gulma tersebut. Di tempat gersang, tidak tumbuh gulma. Karena umumnya tanaman gulma tidak tahan panas, ia cepat mati jika berada di tempat yan panas. Tantangan terberat jika di tanah gersang adalah bagaimana bisa bertahan hidup dengan ketersediaan air (sumber kehidupan) yang minim.

Mungkin akar pohon itu menunjang, menukik kebawah sampai dalam untuk mencari air. Itu sebabnya pohon di tanah gersang akarnya kuat tertanam. Pohonnya tidak mudah dirobohkan sebab tanahnya juga keras. Jika dilihat pohon itu gagah walaupun tampak kering. Berbeda dengan pohon yang ada di tanah yang gembur berkecukupan air. Pohonnya hijau berair, subur tapi akarnya tidak dalam menukik tanah. Ia hanya membesar di bagian atasnya dan menjulur melebar. Di masa kecilnya, tantangannya adalah gulma (tanaman pengganggu). Pohon itu harus berperang merebutkan sumber air. Jika kalah, ia akan gagal menjadi pohon yang besar. Ketika ia berhasil tumbuh besar, tantangannya adalah angin. Semakin tinggi pohon tumbuh, semakin kencang angin yang menerjang. Karena tanah di bawah sangat gembur, ia rentan untuk roboh, karena akar tak kuat mencakram tanah yang mudah lebur.
Setiap lingkungan dimana pohon tumbuh, disana sudah disiapkan berbagai macam keperluan yang dibutuhkan. Dan setiap pohon secara hukum alam akan otomatis mengikuti jalannya dimana ia tumbuh. Sayangnya ada perbedaan manusia dengan pohon. Yaitu pilihan. Manusia bisa memilh di mana ia akan tumbuh, bergonta-ganti, berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat yang lain. Sedangkan pohon tidak. Sayangnya kita diciptakan sedemikian istimewanya dengan piranti lengkap yang menempel pada tubuh kita. Tergantung kita memakainya atau tidak.




Minggu, 29 Mei 2016

Rektorat UB

Gedung Rektorat Universitas Brawijaya

Sketsa ini dibuat di lapangan rektorat tanggal 12 januari 2016, sore-sore sambil ngemil bareng Joko (nama sebenarnya). Udah gitu aja. Hhe..

Sabtu, 28 Mei 2016

Kaktus

Beruntung sekali rasanya jika kita menemukan seorang kaktus. Sebab, ia tak perlu membutuhkan hujan setiap hari. Ia tak perlu mendapat perhatian kita setiap hari, setiap waktu. Justru kalau itu yang terjadi, ia akan mati. Dengan segera. 


Tapi, Walaupun bagaimanapun seorang kaktus adalah Cinta misalnya, dia hanya wanita biasa(yang sama-sama membutuhkan perhatian). Untunglah Rangga tau kadarnya. 


Dan berbahagialah jika kamu kaktus. Jangan bersedih jika kamu tidak bisa berbunga setiap musim seperti bunga lainnya. Sebab, bungamu terlalu istimewa jika untuk semua orang. Hanya orang istimewalah yang akhirnya dapat melihat bungamu mekar, ibarat jadi pelepas dahaga bagi musafir gurun yang sabar di dalam perjalanannya.
Ya, mungkin itu hanya terjadi sekali. Lalu kamu mati. Sama seperti yang lain, setiap makhluk yang bernyawa juga mati. 

Dan itu, menurut saya sudah cukup. Hidup sekali saja. Kemudian berbunga di waktu yang tepat untuk orang yang tepat.

Jumat, 27 Mei 2016

Mitos Pakai Baju Terbalik


Karena buru-buru takut hujan turun, setelah shalat jumat tadi saya langsung ke perpustakaan buat ngerjakan skripsi. Nyampek di perpus, karena gerah jadi saya buka jaket. Nah, baru nyadar kalau kaos yang saya pakai terbalik. Yang bagian dalam jadi bagian luar. Hha.. beruntung saja warna kaosnya sama-sama  abu-abu antar bagian dalam dan luarnya. Jadi mungkin ga sampai menyita perhatian orang-orang di deket saya. Hha.. begitu nyadar, saya langsung pakai jaket lagi.
Baju terbalik. Kalau kata ibu saya sih, itu tandanya kalau saya mau dapat rejeki. Ah, itu dari dulu yang selalu nempel di kepala, akhirnyaa mungkin jadi sugesti ke saya. Gapapa sih, kan itu pertanda baik. Diamini saja. Hhe..

Minggu ini smoga saya sehat selalu saja. Biar rejekinya lancar. Eh, kemarin sketsa scribble saya di repost sama mbak Dian Sastrowardoyo di akun instagramnya. Lah mungkin yang ini lebih tepat tanda-tanda mau dapat rezeki ya. Hhe.. semoga.

Bicara soal mbak Cinta, eh mbak Dian, saya belum nonton filmnya yang fenomenal itu, Aada Apa Dengan Cinta (AADC2). Gimana menurut sampeyan filmnya? Sudah nonton kah?
Saya masih harus selesaiin skripsi dulu. Hadeh..





Rabu, 25 Mei 2016

Membaca Tanda


Kalau langit sudah mendung, itu tanda akan turun hujan. Kalau hujan deras terus menerus tidak berhenti, bisa jadi banjir akan terjadi. Kalau banjir datang, itu tanda penyakit mau menyerang.
Kalau langit pagi berawan, itu tanda semalam hujan. Kalau aspal masih basah, itu juga tanda hujan semalam. Kalau daun masih menguncup, itu tandanya dia kedinginan. Karena semalam hujan semalaman.

Manusia memproduksi tanda.Tanda yang diciptakan oleh manusia bisa dalam bentuk verbal & nonverbal. Tanda diciptakan agar menghemat waktu, tenaga, dan menjaga kerahasiaan. "Sst.." Itu tandanya saya sedang memanggil seseorang. Bukan, itu tandanya kita tidak boleh bicara keras-keras. Bukan, bukan itu.

Tanda non verbal juga tidak universal. Buat orang Amerika, mempertemukan jempol dan telunjuk  sehingga membentuk lingkaran dan menjarangkan jari-jari lainnya, itu berarti "baik", tapi beda dengan orang Brazil, itu adalah tanda "jorok" yang menjijikkan. 

Tanda akan mengikuti tanda. Tanda ditandai dengan tanda. Tanda-tanda seolah tak berarti apa-apa kalau kita tak tahu tentang tanda-tanda. Tanda akan diikuti tanda. Begitu seterusnya

Selasa, 24 Mei 2016

Scribble on Wood

Akhir tahun lalu saya sempat punya angan", ingin membangun bisnis dengan konsep me-recycle limbah. Bukan apa", saya memang suka dengan barang rongsok, barang bekas pakai yang jadi barang terbuang. Bukan berarti yang rongsok tak punya nilai. Justru ide briliannya, bagaimana membuat yang rongsok tak berharga itu jadi bernilai. Dari situ saya coba meningkatkan selera estetika saya dengan mencandra barang" yang indah". Otodidak! Hhe.. Lihat struk belanja di minimarket jadi ga tega kalau misal dibuang, akhirnya sy jadiin media gambar. Trus,
Ada sisa kopi, kok 'eman' (sayang sekali) kalau dibuang. Akhirnya jadi media nggambar juga. Hhe.. Ide berangkat dari sebuah keresahan.
Dan yang terakhir ini, angan" (imaji) saya yang dulu, ingin bermain dengan limbah kayu akhirnya tak berjarak lagi dengan kenyataan. Saya baru nemu limbah kayu melimpah. Hha.. Rasanya kaya nemu harta Qorun.
Limbah kayu palet ini berasal dari tempat produksi meubel kayu palet. Yang notabene, sekarang lagi hits banget dipake buat interior rumah ataupun cafe/resto.
Jadi, limbah yang dihasilkan juga melimpah ruah. Bagi sebagian orang, mungkin ini sampah. Tapi, bagi saya ini adalah ladang untuk berkarya.
Beberapa bulan lagi sy diberi kesempatan untuk mengenalkan produk Ekonomi kreatif (scribble) di kayu dan media lain untuk International conference Indonesian Regional Science Association (IRSA) ke-13. Harapannya, ide ini menjadi gambaran bahwa sebetulnya "ladang" untuk Ekonomi alternatif masih sangat luas untuk digeluti guna menghadapi masalah tingginya tingkat pengangguran di Indonesia. Tapi, lagi-lagi kita masih terbentur soal sumber daya manusia, katanya.
Yah, smoga saja pendidikan di Indonesia smakin maju dalam arti seluas-luasnya. Dan, smoga tikus-tikus berkepala hitam yang menggerogoti uang rakyat itu smakin banyak yang insaf menjelang bulan Ramadhan ini. Eh, apa hubungannya coba SDM sama tikus? *sudahlah, santai aja mikirnya. Ini udah malam.

Sabtu, 21 Mei 2016

Senen Pagi



Pagi ini, adalah pagi yang seru lagi, 12 jam perjalanan di kereta Malang-Jakarta cukup menyenagkan. Nggak nyangka kalau bakal dapat teman perjalanan yang enak diajak ngobrol. Ibu-ibu yang punya anak super aktif dan kepo. Hhe.. satu lagi, bapak-bapak yang sampai sekarang saya tidak tau namanya, yang bisa bicara banyak tentang Dolly sampai Bola. Hhe.. 12 jam itu jadi nggak terasa.. Eh terasa ding, sudah sampai Jakarta. Lagi.

Siang ini saya ada meeting dengan Om Hedy Suryawan, saya diminta bikin scribble di rumahnya, di daerah Bintaro, Jakarta Selatan. Besoknya, eh lusanya,  hari Senin (23/5), meeting sama Mas Adjie (Adjie Silarus) buat ngobrolin project kolaborasi buku. Setelah itu, ketemu Band indie Jakarta yang meminta saya untuk buatin cover albumnya. Tapi yang ini belum  pasti. Yang pasti, mau ketemu sama mbak Mita dari Triartspace. Nambah teman baru, Hhe..

Tapi ya gitu, karena jarang olahraga jadinnya di jalan cepet capek. Hadeh..
Akhir pekan yang jauh. Kaki ini lagi belajar jalan jauh lagi. Semoga saja diberikan kelancaran sampai pulang nanti.

Selamat berakhir pekan.. 
(Ditulis di Stasiun Senen sebelum sarapan pagi, Jakarta 21/5)

Kamis, 19 Mei 2016

Hujan & Kopi

Hujan meminta manusia untuk sejenak berhenti. Dalam riuh aspal orang menyela. Di ruang lain kopi mengajak kita untuk bersua.

Rabu, 18 Mei 2016

20 Menit

Hari ini ndak tau kenapa tiba-tiba semangat saya lagi tinggi untuk beraktifitas. Kondisi tubuh fit dan pikiran jalan keras setelah bangun dari tidur pagi ini. Pas banget dengan sejumlah atkifitas dan tugas yang harus saya kerjakan hari ini. Untunglah saya tertolong dengan 20 menitan.

Selama ini yang saya tahu, saya susah untuk fokus melakukan pekerjaan tertentu. Jadi, tadi kepikiran saja kalau saya praktekin konsep 20 menitan. Yaitu, saya hanya fokus pada 20 menit di depan ini saya mau mengerjakan apa. Tentunya, daftar sehari ini mau ngapain sudah saya tulis. Tapi, saya nggak berpatokan pada waktu yang telah ada di daftar itu. Jadi, kalau sudah selesai satu di 20 menit pertama, langsung bisa pindah ke tugas lain. Ya, konsep ini cukup asyik buat diterapkan untuk kita yang sehari-harinya punya kesibukan padat. Kalau saya mah apa, sebenarnya cuma sok sibuk. Hhe..

Walaupun padat, alhamdulillah bisa sempetin nulis di blog seperti ini. Alhamdulillah juga nulisnya nggak sampai 20 menit. Hhe..

Selamat menjelang sore..

Senin, 16 Mei 2016

Nama Khoirul Anwar

Sedikit demi sedikit, lama-lama nanti juga jadi gunung. Eh, maksud saya bukit. Hhe .. semua membutuhkan proses. Tadi saya nyoba mengetikkan nama saya di laman pencarian google untuk ngetes apa nama saya sudah masuk di halaman satu. Ternyata, nama khoirul anwar itu banyak sekali. Nama pasaran mungkin ya, hadeh.. yang keluar yakni profilnya Khoirul Anwar yang menemukan teknologi 4g itu. Wah salut, nama Khoirul Anwar juga telah menjadi nama orang besar seperti beliau.
 
Lalu, saya coba lagi dengan menambahkan keyword “karikatoer” nama label saya, eh langsung muncul semua link yang merujuk ke akun instagram saya. Hhe.. saya ingat saya mulai pakai instagram sejak 2013 silam. Dulu memang updatenya tiap hari, postingnya juga sedikit demi sedikit. Dan sekarang jumlah postingannya sudah lebih dari seribuan. Hha.. yang banyak itu sampai ada yang komen kalau dia mau ngelike-in foto instagram saya satu per-satu tapi terlalu banyak katanya. Hhi.. emang siapa yang nyuruh ngelike semua? He..

Sekarang, saya akan pindah update postingan scribble di web. Sedikit demi sedikit. Mungkin saat ini kalau dicari dengan keyword scribble art, web saya masih belum muncul di laman awal. Suatu saat, tenang. Akan ada waktunya web saya berada di laman pencarian google seiring dengan banyaknya konten yang saya posting disana. Hhi..

Tapi, saya lagi bingung nih caranya mentautkan web saya www.karikatoer.com itu dengan blog ini. Kalau misal bisa terintegrasi kan, enak. Akselerasinya jadi lebih cepat. Hhe..

Kalau sampeyan  tau gak caranya?

Minggu, 15 Mei 2016

Mendengar

Kalau kita bicara, sebenarnya omongan kita nggak akan jauh dari apa yang pernah kita baca. Hari ini saya tidak ingin terlalu banyak bicara. Tapi toh komunikasi memang penting, yang mengharuskan saya harus bicara. 

Sepertinya, ada lebih banyak orang ingin bicara atau menjadi orang yang di dengar ketimbang jadi pendengar. Sudah jadi kecendrungan mungkin ya. Bagaimana dalam suatu forum, pasti ada salah seorang yang akan bicara tentang ke-aku-an daripada membicarakan dari sudut pandang masing-masing(ruang diskusi). Padahal, Tuhan telah memberi petunjuk dengan simbol semiotika penciptaannya. Manusia diberi dua telinga dan satu mulut untuk bicara. Kita diminta lebih banyak mendengar.

Kalau menurut sampeyan gimana?

Sabtu, 14 Mei 2016

Coretan Tangan

Beberapa hari yang lalu saya menulis di instagram saya, bahwa scribble art ini punya nilai ekonomi tersendiri di pasar dunia maupun di asia khususnya. Biar tidak dibilang hanya opini atau Omdo (omong doang) jadi mungkin kita harus ngomongnya pakai data. Hhe.. Di kasus saya ini, saya hanya menjual jasa saja (softfile) tanpa produk (hardfile). Responnya luar biasa. Mereka nggak nawar" langsung dibayar. 

Yap, sebenarnya postingan ini hanya untuk mengompori(memotivasi) temen" yg juga sedang membangun bisnis di dunia ilustrasi. Supaya terus berkarya dan selalu meng-upgrade kemampuan diri (Supaya tidak dihargai murah /dipandang sebelah mata oleh bangsa lain). Sy dapat kabar, katanya 2016 MEA (Masyarakat Ekonomi Asean) udah jalan. tapi gelagat semangatnya kok belum keliatan ya. Hhe.. Jujur, saya bukan mahasiswa seni tapi mahasiswa ekonomi (taxation). Makanya kalau dibilang seniman sy juga nggak enak sama seniman aslinya. Hhi.. 

Ada juga yang menyebut saya penggiat ekonomi kreatif, (artpreneur) mungkin lebih relevan. Ya, saya serahkan kepada teman" saja. Bagi saya, setiap orang adalah seniman. Mungkin memang ada yang tidak menyadarinya. Yang terpenting kita nggak sampai jadi 'manusia gagal' dalam sebutan Marx (Karl Marx). Orang gagal menurutnya adalah orang yang tidak produktif. Bukan dalam artian kegiatan menghasilkan barang dan jasa. Tetapi, tidak produktif disini merujuk pada manusia yang gagal memberikan nilai pada proses menciptanya (kegiatan berkesenian). Misal, "Sampeyan nggambar kenapa dan untuk apa?" "Tidak tau!"
Gagal mencerapi kondisi realitas lingkungan yang ada. Akhirnya melakukan apa" cuma ikut"an, nglakuin apa" jadi setengah". Hadeh..

Kemarin Bang Erix Soekamti bikin VLOG isinya ttg tesis harga karya seni. Menurutnya ada 3 hal yang bisa jadi rumusan ketika kita ingin menilai sebuah karya. 1. Material (bahan) 2. Keunikan Skill 3. Trust (kepercayaan) atas brand VALUE (nilai)
Material itu spt (kalau saya pakai kertas, pigura dll) bisa dihitung rupiahnya
Keunikan skill itu tentang Keunikan kita. Yang membuat kita beda dari yang lain. Nama besar (karena ada banyak apresiasi) juga mempengaruhi. Popularitas!
Trust, bicara tentang kepercayaan orang terhadap kita. Diluar itu semua juga ada faktor X.


Harga hasil karya seni berbeda dengan barang lainnya. Kadang mahalnya seperti nggak masuk akal kalau kita mengacunya pakai hitungan barang pada umumnya. 
Semisal kertas, 1 lembar kertas HVS yang biasa kita pakai ngeprint tugas kalau dihitung mungkin hanya seharga dua ratus perak atau bisa kurang. Tapi kalau di kertas itu misal ada tulisan tangan teks proklamasi asli dari Sukarno, nilainya bisa milyaran kalau dilelang atau bahkan tak terbeli, sehingga menjadi dokumen negara yang dikuasai negara. Kenapa bisa jadi mahal? Kertas tadi pertama, telah diberi nilai tambah dari nama besar (Presiden RI pertama). Kedua kertas tadi punya nilai histori (historical value), dia (kertas itu) telah bercerita tentang sejarah perjuangan Rakyat Indonesia yang bersatu padu menyatakan sikap sebuah bangsa yang merdeka. 


Akan berbeda dengan teks proklamasi yang kita tulis di kertas buku waktu SD dulu. Atau kertas HVS hasil skripsi yg dicoret-coret (revisi) dosen kita. Nasibnya mungkin kita kiloin (dijual) di Besi Tua. Berakhir jd wadah kacang, lombok, bawang di pasar. Hhe.
Tentang coretan siapa yang masih memegang rekor termahal di bumi ini, yang saya tahu nama itu adl Jimmy Hendrix, disusul nama yang pernah jadi presiden amerika, Abraham Lincoln. Kabarnya, tanda tangannya yang asli hanya ada 6. Fiuh... Mahalnya juga karena langka. Kaya' kita, yg adl org langka, maka kita berharga.Tapi tidak jual diri. Hhi


Ya, setiap buah kerja tangan manusia (handmade) sampai kapanpun tidak akan bisa tergantikan(secara kualitas) oleh teknologi secanggih apapun. Makanya saya masih suka traditional art, sketch manual seperti ini. "Banyak juga sih yang nanya, mas itu sketchnya ada aplikasinya nggak?"
"Belum ada (yang instan masukin foto langsung pilih filter macam-macam scribble). Mungkin masih dibuat.." Hhe.. Kalau Ada aplikasi yang bisa munculin efek sketsa kopi saya juga mau tuh download.. 😁

Kamis, 12 Mei 2016

Konspirasi

“Ketika seseorang punya keinginan kuat untuk menggapai sesuatu, maka seluruh alam semesta akan berkonspirasi untuk mewujudkannya.” - Raja Tua (Sang Alkemis, Paulo Coelho)


Saya merasa seminggu ini, alam sedang berkonspirasi mendekatkan saya dengan angan-angan dan cita-cita saya. Kemarin, ada salah satu penulis buku kondang menghubungi saya untuk ajakan kolaborasi karya. Padahal, bukunya itu sempat saya beli dua kali untuk saya dan untuk saya berikan pada kawan saya. Berawal dengan kekaguman saya dengan tulisan di bukunya, saya nggak nyangka saja kalau sebentar lagi saya akan menemui dia. Tuhan sepertinya juga ikut campur dalam konspirasi ini. Sudah saya duga.
 
Akhirnya, konspirasi itu membuat saya menikmati hari ini. 

Kalau sampeyan gimana kabar hari ini?

Rabu, 11 Mei 2016

Sertifikasi



Sepertinya jaman sekarang apa-apa kudu punya sertifikat. Mau ngaku pinter perpajakan kalau nggak punya sertifikatnya (Brevet A,B,C) mana ada orang percaya. Mau daftar wisuda saja kudu melampirkan sertifikat inilah, itulah. Mau ngaku jago design atau nggambar sekalipun, memang kamu punya sertifikat apa? Hm..
 
Dunia akan mengakui kemampuan kita karena kertas sertifikat kita. Kemampuan semata-mata dilihat di awal dari seberapa banyak kertas sertifikat yang kita punya. Kalau ada orang yang punya bakat luar biasa tapi nggak pernah ikutan kontes atau lomba mana mungkin dia punya sertifikat.  Hadeh.. Tapi biasanya, memang dunia akan mengakui kemampuan mereka kemudian atas hasil karyanya yang di atas standar rata-rata. Sebab di atas rata-rata itu, sertifikasi jadi tidak diperlukan.

Nah, kalau mau ngukur integritas seseorang apa pakai sertifikat juga nggak ya. Hhe..
Menurut sampeyan gimana?