Jumat, 06 Mei 2016

Jalan

Sebentar lagi, saya akan menemui jalan bercabang lagi. Pilihan-pilihan dalam perjalanan saya sedang terbuka kembali menuntut saya untuk memilih salah satu jalan diantaranya. Mungkin bukan hanya saya, teman-teman seangkatan saya di kampus juga merasakan hal yang sama. Di jenjang yang lebih rendah, di Indonesia, adik adik SMA kelas XII akan segera memilih dimana ia melanjutkan prosesnya, adik-adik SMP juga begitu, mereka akan atau sudah menentukan dimana SMA yang akan jadi tempat rutinitasnya. Nggak hanya siswa, mungkin para orang tua juga dibuat bingung akan menyekolahkan anaknya. Hidup adalah pilihan.

Ada beberapa pernyataan dari teman-teman yang sering saya dengar, “kamu enak Rul, sudah tau akan kemana setelah lulus ini, nah aku?” ada pesan yang seolah posisi saya sekarang sudah enak, karena jalan yang terbentang di depan saya mereka anggap sudah jelas, begitu kesan yang saya ambil dari pernyataan teman itu.

Saya tidak menyangkal memang, kalau aset sosial yang saya punya sekarang bisa saya manfaatkan sebagai bekal menyongsong hari depan. Tapi toh sebenarnya semua ada di pilihan saya atas keadaan saya dan pilihan kamu atas keadaan kamu. Dan posisi saya sekarang dengan status mahasiswa perpajakan yang “sudah bekerja” di luar bidang perpajakan, kadang tak selamanya menguntungkan saya untuk membuat keputusan dengan mudah memilih jalan fokus akan berkarier dimana. Dan kalau teman saya tadi membandingkan dia dengan diri saya hanya akan membuat hidup itu nggak nyaman. Saya yakin, karena manusia sangat otentik, diciptakan sangat unik dengan jalan hidup yang melekat pada dirinya, maka itu yang menyebabkan kita sangat istimewa sampai nggak bisa kita bandingkan diri kita dengan yang lain. Jadi jangan membandingkan. Tapi wajar memang, kalau orang menilai kita. Hhe..

Kalau boleh dibilang, selama ini saya selalu memberikan ruang tetap terbuka pada pilihan-pilihan itu. Artinya disini saya adalah orang yang cukup kompromistis tapi bukan berarti menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang saya tuju. Sebab saya sadar, kita hidup berdampingan dengan alam. Akan ada semacam benturan-benturan yang kerapkali kita harus sikapi kala pilihan jalan yang kita tempuh terlalu keras bergesekan dengan hukum alam itu. Kadang kita harus cari jalan alternatif semisal jalan kita terputus oleh suatu kondisi. Terkadang mungkin hanya pola pikir kita yang menganggap jalan di depan kita berlubang sehingga kita tidak bisa melewatinya. Akhirnya kita tahu yang sebenarnya (rencana terbaik Tuhan) ketika kita sudah melewati jalan itu (kita akan mengerti ketika kita sudah mengalami).

Saya juga yakin, setiap orang menginginkan berjalan ke tujuan sukses. Tapi yang membedakan ialah definisi sukses dari masing-masing orang. Sukses saya dan kamu mungkin berbeda. Mungkin secara awamnya, artian sukses yang bisa jadi titik temu adalah terwujudnya suatu kondisi di dunia nyata atas ekspetasi yang telah kita bangun di dunia pikiran  (ide) kita. Ya. Saya sering mengulang-ulang kata; kita hidup di dunia dua, satu di alam pikiran, satunya adalah realita.

Dunia begitu abstrak. Mungkin ibarat lukisan scribble ketika dilihat dari jarak dekat. Coba ubah sudut pandangnya, kita akan lihat maksud keindahannya.

Tentang pilihan saya atas hari depan biarlah itu menjadi rahasia alam. Tugas saya disini hanyalah menjalani kewajiban yang tidak akan bisa diwakili oleh orang lain. Mungkin karena itu memang Tuhan menciptakan diri saya. Yang terpenting, hanya tetapkanlah sebuah tujuan, bukankah banyak jalan menuju ke Roma? dan bersiap menghadapi benturan-benturan kehidupan yang membuat perjalanan jadi menakjubkan.

“Eh Rul, abis lulus mau kemana (kerja atau kuliah lagi)?”

Sebuah pertanyaan seorang kawan yang tiba-tiba menutup diskusi imajiner saya tentang jalan bercabang. Saya harus memilih satu. Jalan!

Kalau sampeyan, Gimana?







Tidak ada komentar:

Posting Komentar