Sebentar lagi, saya akan menemui jalan bercabang lagi. Pilihan-pilihan
dalam perjalanan saya sedang terbuka kembali menuntut saya untuk memilih salah
satu jalan diantaranya. Mungkin bukan hanya saya, teman-teman seangkatan saya
di kampus juga merasakan hal yang sama. Di jenjang yang lebih rendah, di
Indonesia, adik adik SMA kelas XII akan segera memilih dimana ia melanjutkan
prosesnya, adik-adik SMP juga begitu, mereka akan atau sudah menentukan dimana
SMA yang akan jadi tempat rutinitasnya. Nggak hanya siswa, mungkin para orang
tua juga dibuat bingung akan menyekolahkan anaknya. Hidup adalah pilihan.
Ada beberapa pernyataan dari teman-teman yang sering saya
dengar, “kamu enak Rul, sudah tau akan kemana setelah lulus ini, nah aku?” ada
pesan yang seolah posisi saya sekarang sudah enak, karena jalan yang terbentang
di depan saya mereka anggap sudah jelas, begitu kesan yang saya ambil dari
pernyataan teman itu.
Saya tidak menyangkal memang, kalau aset sosial yang saya
punya sekarang bisa saya manfaatkan sebagai bekal menyongsong hari depan. Tapi toh
sebenarnya semua ada di pilihan saya atas keadaan saya dan pilihan kamu atas keadaan kamu. Dan posisi saya sekarang dengan
status mahasiswa perpajakan yang “sudah bekerja” di luar bidang perpajakan,
kadang tak selamanya menguntungkan saya untuk membuat keputusan dengan mudah
memilih jalan fokus akan berkarier dimana. Dan kalau teman saya tadi
membandingkan dia dengan diri saya hanya akan membuat hidup itu nggak nyaman. Saya
yakin, karena manusia sangat otentik, diciptakan sangat unik dengan jalan hidup
yang melekat pada dirinya, maka itu yang menyebabkan kita sangat istimewa
sampai nggak bisa kita bandingkan diri kita dengan yang lain. Jadi jangan
membandingkan. Tapi wajar memang, kalau orang menilai kita. Hhe..
Kalau boleh dibilang, selama ini saya selalu memberikan
ruang tetap terbuka pada pilihan-pilihan itu. Artinya disini saya adalah orang
yang cukup kompromistis tapi bukan berarti menghalalkan segala cara untuk
mendapatkan apa yang saya tuju. Sebab saya sadar, kita hidup berdampingan
dengan alam. Akan ada semacam benturan-benturan yang kerapkali kita harus
sikapi kala pilihan jalan yang kita tempuh terlalu keras bergesekan dengan
hukum alam itu. Kadang kita harus cari jalan alternatif semisal jalan kita
terputus oleh suatu kondisi. Terkadang mungkin hanya pola pikir kita yang
menganggap jalan di depan kita berlubang sehingga kita tidak bisa melewatinya. Akhirnya
kita tahu yang sebenarnya (rencana terbaik Tuhan) ketika kita sudah melewati
jalan itu (kita akan mengerti ketika kita sudah mengalami).
Saya juga yakin, setiap orang menginginkan berjalan ke
tujuan sukses. Tapi yang membedakan ialah definisi sukses dari masing-masing orang.
Sukses saya dan kamu mungkin berbeda. Mungkin secara awamnya, artian
sukses yang bisa jadi titik temu adalah terwujudnya suatu kondisi di dunia
nyata atas ekspetasi yang telah kita bangun di dunia pikiran (ide) kita. Ya. Saya sering mengulang-ulang
kata; kita hidup di dunia dua, satu di alam pikiran, satunya adalah realita.
Dunia begitu abstrak. Mungkin
ibarat lukisan scribble ketika dilihat dari jarak dekat. Coba ubah sudut
pandangnya, kita akan lihat maksud keindahannya.
Tentang pilihan saya atas hari depan biarlah itu menjadi
rahasia alam. Tugas saya disini hanyalah menjalani kewajiban yang tidak akan
bisa diwakili oleh orang lain. Mungkin karena itu memang Tuhan menciptakan diri
saya. Yang terpenting, hanya tetapkanlah sebuah tujuan, bukankah banyak jalan
menuju ke Roma? dan bersiap menghadapi benturan-benturan kehidupan yang membuat perjalanan jadi menakjubkan.
“Eh Rul, abis lulus mau kemana (kerja atau kuliah lagi)?”
Sebuah pertanyaan seorang kawan yang tiba-tiba menutup
diskusi imajiner saya tentang jalan bercabang. Saya harus memilih satu. Jalan!
Kalau sampeyan,
Gimana?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar