Sore tadi saya abis kuliah kehidupan bareng senior saya di
rumah. Ya, topiknya masih seputar keikhlasan dalam bekerja. Apa yang
disampaikan senior tadi yakni bagaimana menyikapi orang yang tidak tahu balas budi. Ah ini topik
terlalu berat. Hhe
Berbuat baik kepada orang lain saja itu tidaklah cukup. Setiap perbuatan harus punya dasar, untuk
dan kepada siapa ia ditujukan. Menurut senior saya, setiap perbuatan yang
dilakukan itu harus digantungkan pada Yang Memberi Hidup. Sebab, dengan itulah
segala perbuatan baik yang dilakukan kalau nggak dapat balasan dari orang lain tidak
akan muncul rasa kecewa. Wah ini sudah hitungan langit. Jadi untuk memahaminya
dibutuhkan keyakinan.
Dengan kata lain, menjalani
pekerjaan apapun harus diiringi sebuah pengharapan nilai dari Yang Maha Hidup. Jadi
setiap hari minimal harus ada satu kebaikan yang kita tanam terhadap orang lain,
Begitu senior bilang. Sebab kalau nggak ada sama sekali artinya kita merugi
sehari. Termasuk saat kita berbuat baik kepada orang lain, tapi kitanya riya’
atau mengharap jasa timbal balik dari orang yang kita bantu itu juga sama saja
akhirnya satu kebaikan yang kita lakukan tadi hangus tak bernilai di mata Yang
Maha Melihat.
Ketidakpastian orang yang kita
berikan kebaikan itu bukanlah urusan kita. Urusan kita hanya pada Allah yang
memerintahkan kita untuk berbuat baik kepada sesama dan menjauhi apa yang
dilarangNya. Terkait respond orang itu baik atau buruk kepada kita itu urusan
mereka. Ada orang yang tau diri, ada yang tidak. Ada yang tidak mengerti
bagaimana seharusnya membalas budi. Pintar-pintarnya kita menempatkan diri.
Akhirnya, menurut saya
orang-orang yang memang sudah sampai belajar di derajat hakikat, bagi sebagian
orang akan memandang ia adalah orang goblok, gampang ditipu karena saking
baiknya jadi orang. Tapi toh orang-orang yang sampai belajar hakikat telah
mengikatkan diri dengan janji ilahi. Saya selalu kagum kalau sudah ketemu dengan
orang-orang seperti itu.
Menurut sampeyan gimana?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar