Lagi-lagi Tuhan memberi petunjuk dengan caranya yang nggak bisa saya tebak. Hari ini, saya diingatkan kembali. Sebuah kesadaran baru dari layunya tangan sepuh ini. Sendiri, merasakan detik berdetak dari hitungan satu sampai enam puluh lalu saya mengikuti detak jarum jam hingga hitungan ke satu lagi.
Disini, suasana hening, sesekali ada tanda kehidupan. Suara surau para penunggu orang sakit di luar. Tadi, ada yang mati lima. Katanya satu keluarga yang habis keracunan ikan Buntal (4 Remaja Lumajang Tewas, Fakta Horor di Balik Ikan Buntal). Merinding dengar tangisan sanak saudaranya. Saya terpekur.
Tangan sepuh. Saya tau mungkin tanganmu sekarang kembali seperti anak kecil lagi. Suka memegang mainan yang mungkin itu mainan seorang cucu. Tapi begitulah adanya. Manusia yang telah purna. Tanganmu juga mungkin sekarang tak sekuat dulu. Ketika para kompeni masih berkeliaran di desa kita, tangan ini sering dipakai untuk kerja (mungkin tangan ini masih mungil dulu). Tangan yang rajin, kelihatan dari kerutnya yang mengalur indah.
Tangan yang sering dipakai mengusap kepala saya sewaktu kecil. Tangan penuh kasih dan sayang, yang belaiannya mungkin sampai membuat iri adik kepada saya.
Tatapan lebar ke arah wajah membangunkan lamunan saya.
"Sopo? (siapa kamu?)"
"Irul Mak,(panggilan saya kepada nenek)
Iki Irul".
"Sopo? (siapa kamu?)"
"Irul Mak,(panggilan saya kepada nenek)
Iki Irul".
Tidak ada komentar:
Posting Komentar