Akhir
tahun lalu saya sempat punya angan", ingin membangun bisnis dengan
konsep me-recycle limbah. Bukan apa", saya memang suka dengan barang
rongsok, barang bekas pakai yang jadi barang terbuang. Bukan berarti
yang rongsok tak punya nilai. Justru ide briliannya, bagaimana membuat
yang rongsok tak berharga itu jadi bernilai. Dari situ saya coba
meningkatkan selera estetika saya dengan mencandra barang" yang indah".
Otodidak! Hhe.. Lihat struk belanja di minimarket jadi ga tega kalau
misal dibuang, akhirnya sy jadiin media gambar. Trus,
Ada
sisa kopi, kok 'eman' (sayang sekali) kalau dibuang. Akhirnya jadi
media nggambar juga. Hhe.. Ide berangkat dari sebuah keresahan.
Dan
yang terakhir ini, angan" (imaji) saya yang dulu, ingin bermain dengan
limbah kayu akhirnya tak berjarak lagi dengan kenyataan. Saya baru nemu
limbah kayu melimpah. Hha.. Rasanya kaya nemu harta Qorun.
Limbah
kayu palet ini berasal dari tempat produksi meubel kayu palet. Yang
notabene, sekarang lagi hits banget dipake buat interior rumah ataupun
cafe/resto.
Jadi, limbah yang dihasilkan juga melimpah
ruah. Bagi sebagian orang, mungkin ini sampah. Tapi, bagi saya ini
adalah ladang untuk berkarya.
Beberapa bulan lagi sy
diberi kesempatan untuk mengenalkan produk Ekonomi kreatif (scribble) di
kayu dan media lain untuk International conference Indonesian Regional
Science Association (IRSA) ke-13. Harapannya, ide ini menjadi gambaran
bahwa sebetulnya "ladang" untuk Ekonomi alternatif masih sangat luas
untuk digeluti guna menghadapi masalah tingginya tingkat pengangguran di
Indonesia. Tapi, lagi-lagi kita masih terbentur soal sumber daya
manusia, katanya.
Yah, smoga saja pendidikan di Indonesia
smakin maju dalam arti seluas-luasnya. Dan, smoga tikus-tikus berkepala
hitam yang menggerogoti uang rakyat itu smakin banyak yang insaf
menjelang bulan Ramadhan ini. Eh, apa hubungannya coba SDM sama tikus?
*sudahlah, santai aja mikirnya. Ini udah malam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar