Selasa, 24 Mei 2016

Scribble on Wood

Akhir tahun lalu saya sempat punya angan", ingin membangun bisnis dengan konsep me-recycle limbah. Bukan apa", saya memang suka dengan barang rongsok, barang bekas pakai yang jadi barang terbuang. Bukan berarti yang rongsok tak punya nilai. Justru ide briliannya, bagaimana membuat yang rongsok tak berharga itu jadi bernilai. Dari situ saya coba meningkatkan selera estetika saya dengan mencandra barang" yang indah". Otodidak! Hhe.. Lihat struk belanja di minimarket jadi ga tega kalau misal dibuang, akhirnya sy jadiin media gambar. Trus,
Ada sisa kopi, kok 'eman' (sayang sekali) kalau dibuang. Akhirnya jadi media nggambar juga. Hhe.. Ide berangkat dari sebuah keresahan.
Dan yang terakhir ini, angan" (imaji) saya yang dulu, ingin bermain dengan limbah kayu akhirnya tak berjarak lagi dengan kenyataan. Saya baru nemu limbah kayu melimpah. Hha.. Rasanya kaya nemu harta Qorun.
Limbah kayu palet ini berasal dari tempat produksi meubel kayu palet. Yang notabene, sekarang lagi hits banget dipake buat interior rumah ataupun cafe/resto.
Jadi, limbah yang dihasilkan juga melimpah ruah. Bagi sebagian orang, mungkin ini sampah. Tapi, bagi saya ini adalah ladang untuk berkarya.
Beberapa bulan lagi sy diberi kesempatan untuk mengenalkan produk Ekonomi kreatif (scribble) di kayu dan media lain untuk International conference Indonesian Regional Science Association (IRSA) ke-13. Harapannya, ide ini menjadi gambaran bahwa sebetulnya "ladang" untuk Ekonomi alternatif masih sangat luas untuk digeluti guna menghadapi masalah tingginya tingkat pengangguran di Indonesia. Tapi, lagi-lagi kita masih terbentur soal sumber daya manusia, katanya.
Yah, smoga saja pendidikan di Indonesia smakin maju dalam arti seluas-luasnya. Dan, smoga tikus-tikus berkepala hitam yang menggerogoti uang rakyat itu smakin banyak yang insaf menjelang bulan Ramadhan ini. Eh, apa hubungannya coba SDM sama tikus? *sudahlah, santai aja mikirnya. Ini udah malam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar