Apabila lebih besar beban daripada penampang, maka sebuah
kapal dilaut pasti karam. Tapi kenapa kapal pinisi begitu besarnya dibuat dari
bahan besi (yang seharusnya sifat besi ialah tenggelam ketika di air) tidak
tenggelam? Hhe.. itu pertanyaan saya waktu kecil dulu. Jawabannya karena laut
itu luas. Laut sebagai penampangnya. Penampang yang luas mempunyai tekanan
lebih besar daripada beban (kapal). Logika pelajaran fisika yang tak kunjung saya pahami
dari dulu. Hhe..
Bagaimana kalau manusia mendapat beban masalah (yang menguras
pikiran, tenaga, waktu) melebihi kapasitas (penampang) berpikirnya?. Yap, dia
tenggelam! (stress). Hmm.. mungkin
itu jenis penyakit yang lagi musim melanda negeri saya sekarang. Ada yang
dililit hutang akhirnya stress karena ndak bisa mbayar, ada yang stress ngerjain
skripsi dosennya dibunuh, hadeh..
Menurut saya. Ada tiga cara trik mengatasi kelebihan muatan
(stress) tadi. Pertama, kurangi beban
kerjanya. Mungkin semua karena dianggap sebagai masalah. Padahal dari
semuanya itu ada yang bukan masalah jadi tidak perlu dipikirkan. Akhirnya kita
harus memilah, mendefinisikan mana yang masalah dan mana yang bukan sehingga
kita hanya fokus pada apa yang perlu dipikirkan saja. Kedua, luaskan
penampangnya. Ibarat kapal dan laut tadi, kalau kapal adalah bebannya maka
penampang adalah pengetahuan kita. Luaskan (penampang) ilmu pengetahuan kita
agar kalau masalah datang, kita sudah siap menghadapinya dengan bekal pemahaman
dan ilmu yang kita miliki.
Kalau terlanjur di posisi banyak masalah, mau tidak mau kita
harus belajar, meluaskan penampang tadi sampai pengetahuan dan pemahaman kita
lebih luas daripada beban yang ada. Akhirnya masalah akan terangkat ke
permukaan.
Dan terakhir, cari wadah kosong baru atau kosongkan diri
sejenak. Sehingga muatan beban-beban tadi diangkat sementara sampai kapal tegak
dahulu, kemudian masukkan kembali beban yang akan diangkut kapal lagi. Ah,
saya terlalu beranalogi terus ya. Hhe.. contohnya seperti kemarin, saya punya
masalah, tempat pena saya kelebihan beban karena semakin banyak pena yang saya
punya. Trus saya akhirnya beli tempat pena. Padahal dulu bikin sendiri dari
bekas isolasi, tapi sekarang terpaksa beli.
Inipun sebenarnya bukan asli tempat alat tulis. Tapi tempat perkakas makan seperti sendok dan garpu. Saya kebetulan lihat di tempat penjualan perkakas rumah tangga kemarin saat mengantar adik membeli perkakas titipan ibunya.
Inipun sebenarnya bukan asli tempat alat tulis. Tapi tempat perkakas makan seperti sendok dan garpu. Saya kebetulan lihat di tempat penjualan perkakas rumah tangga kemarin saat mengantar adik membeli perkakas titipan ibunya.
Saya pikir, ini cocok untuk mengganti tempat pena saya yang
sudah kelebihan beban. Unik, bahannya terbuat dari bambu. Dan tentu harganya
murah meriah ketimbang tempat alat tulis di swalayan sana. Hhe..

Tidak ada komentar:
Posting Komentar