Dua-tiga hari ini saya pulang kampung. Nenek saya sakit.
Alhamdulillah kondisinya saat ini sudah membaik seiring saya berada di rumah, mungkin beliau kangen cucu tersayangnya. hhe.. dan semoga minggu ini beliau segera pulih. Sebab lama-lama saya tidak tega dengar keluhnya kalau lagi batuk. Maklum beliau sudah sepuh.
Waktu di rumah ini juga saya sempatkan untuk lebih produktif. Agar nggak jadi manusia gagal kalau kata Marx. Walaupun produktif disini bukan dalam artian bikin sketsa seperti biasanya (kegiatan mekanis menghasilkan barang dan jasa). Kesempatan berada di rumah saya manfaatkan betul mencerapi kondisi realitas yang ada. Wajar, sudah lama nggak pulang kampung. Jadi, kalau pulang pasti banyak saja kabar yang saya lewatkan dari keluarga dan lingkungan. Banyak yang berubah!
Tapi, masih ada saja yang tetap seperti yang dulu. Pas banget dengan momentum kelulusan siswa SMA, tadi pagi banyak dari mereka yang lewat depan rumah lagi konvoi merayakan kelulusan dengan kostum "warna-warni" SMA. Mungkin beginilah cara mereka memaknai eksistensi dirinya atas sebuah kata "LULUS". Adakah cara lain yang lebih produktif ketimbang corat-coret seragam dan berbaris-baris di jalanan desa?
Ah, kalau Marx masih hidup, mungkin saya akan mendiskusikan selebrasi mereka tadi dengannya. Sebab saya masih belum paham betul tentang sebutan 'manusia yang gagal'.
Kalau menurut sampeyan, gimana?
Alhamdulillah kondisinya saat ini sudah membaik seiring saya berada di rumah, mungkin beliau kangen cucu tersayangnya. hhe.. dan semoga minggu ini beliau segera pulih. Sebab lama-lama saya tidak tega dengar keluhnya kalau lagi batuk. Maklum beliau sudah sepuh.
Waktu di rumah ini juga saya sempatkan untuk lebih produktif. Agar nggak jadi manusia gagal kalau kata Marx. Walaupun produktif disini bukan dalam artian bikin sketsa seperti biasanya (kegiatan mekanis menghasilkan barang dan jasa). Kesempatan berada di rumah saya manfaatkan betul mencerapi kondisi realitas yang ada. Wajar, sudah lama nggak pulang kampung. Jadi, kalau pulang pasti banyak saja kabar yang saya lewatkan dari keluarga dan lingkungan. Banyak yang berubah!
Tapi, masih ada saja yang tetap seperti yang dulu. Pas banget dengan momentum kelulusan siswa SMA, tadi pagi banyak dari mereka yang lewat depan rumah lagi konvoi merayakan kelulusan dengan kostum "warna-warni" SMA. Mungkin beginilah cara mereka memaknai eksistensi dirinya atas sebuah kata "LULUS". Adakah cara lain yang lebih produktif ketimbang corat-coret seragam dan berbaris-baris di jalanan desa?
Ah, kalau Marx masih hidup, mungkin saya akan mendiskusikan selebrasi mereka tadi dengannya. Sebab saya masih belum paham betul tentang sebutan 'manusia yang gagal'.
Kalau menurut sampeyan, gimana?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar