Sabtu, 30 April 2016

Scribble Bang Is @pusakata @payungteduhofficial



Untuk Perempuan Yang Sedang Dalam Pelukan
Tak terasa gelap pun jatuhDiujung malam menuju pagi yang dinginHanya ada sedikit bintang malam iniMungkin karena kau sedang cantik-cantiknya

Lalu mataku merasa maluSemakin dalam ia malu kali iniKadang juga ia takutTatkala harus berpapasan ditengah pelariannya

Di malam hariMenuju pagiSedikit cemasBanyak rindunya

Jumat, 29 April 2016

In Time

Ada yang bilang, jamnya orang Indonesia itu jam karet, maksudnya kebiasaan masyarakat kita (di Indonesia) suka ngaret (molor kaya' karet) nggak tepat waktu kalau lagi bikin janji. Saya sepenuhnya tidak sepakat dengan pernyataan itu. Kan nggak semua, jadi tidak bisa di-generalisir begitu!

Tapi saya pikir ada benarnya juga sih, tadi sore contohnya. Saya ada jadwal ngisi materi kelas karikatur di salah satu lembaga pers mahasiswa. Mereka sepakat untuk mulai jam 4 sore. Saya iya-in. Saya datang pukul 4 lebih 7 menit menurut jam tangan saya sesampainya di lokasi (telat sedikit karena jalanan macet). Eh, pesertanya masih ada yang shalat, padahal shalat ashar kan ada rentang satu jam antara  jam 3 sampai jam 4. Lalu, ceritanya disitu mereka lagi kedatangan tamu dari lembaga yang lain. Saya segera unjuk permisi keluar (supaya nggak mengganggu acara mereka). Dengan maksud lain agar kelas karikatur segera bisa dimulai di ruangan yang lain.

Saya tunggu diluar, eh nggak ada yang keluar juga pesertanya, kan pengurus yang berurusan dengan tamu itu sudah banyak, ini kenapa peserta karikatur masih di dalam pikir saya, akhirnya saya tinggal beli makan. Perut laper seharian belum makan habis begadang. Hhe..
Pas saya balik lagi, masih aja mereka di dalam. Ini yang butuh siapa sih? Saya butuh mereka apa mereka butuh saya? Hadeh..

Akhirnya saya pamit pulang, karena masih ada pekerjaan di jam itu yang mestinya saya kerjakan, tapi mereka menahan saya. Telat! Saya pun mengalah kali ini. Saya ikuti kemauan mereka. Tapi ya dengan mood yang nggak enak karena pikiran saya distract gara-gara sikap bodoh itu. Waktu yang harusnya saya isi dengan materi akhirnya nge-blank terganti dengan ocehan yang harusnya tidak sampai terucap.

Saya pun sebenarnya belum sepenuhnya selalu bisa tepat waktu mengerjakan apapun atau membuat janji kepada orang lain. Tapi, sebisanya saya telah berusaha in time atau datang sebelum waktu janji pertemuan. Waktu itu mahal, bagi saya bukan karena waktu itu adalah uang (karena waktu bukan melulu tentang uang) tapi waktu itu kesempatan, sebuah karunia Tuhan untuk dinikmati dan disegerakan. Sebab, belum tentu kesempatan itu datang dua kali, seperti hidup di dunia kita ini yang cuma sekali. Maka janganlah disia-siakan, berusahalah tepat waktu, atau kalau bisa mendahului waktunya (in time).

Ya, mungkin kita lagi-lagi masuk kategori manusia yang merugi. Entahlah, smoga saja bukan.
Kalau sampeyan, gimana?



Rabu, 27 April 2016

Basic Scribble & Mural Workshop #URBANGIGS



Hello Surabaya!


Let’s join me at the coolest youth celebration at #UrbanGiGs this week


Mark on your calender :
Saturday, April 30th 2016
at Area Parkir Suroboyo Carnival Park
4pm - finish 
There will be music performance by
@nidjiofficial
@gac_music
@payungteduhofficial
@silampukau 


Also, join Basic Scribble & Mural Workshop with me Khoirul Anwar @karikatoer
Book your seats now because this 
workshop is limited! 

FREE ENTRY (18+) #UrbanGiGs Food and fashion bazaar, art exhibition. 

Selasa, 26 April 2016

Vlog

Hari ini banyak hambatan yang saya temui. Banyak dateline yang mesti saya kejar minggu ini, tapi semua berjalan nggak semulus wajah Raisa. Jalanin aja, seloroh seorang kawan. Hhe..

­Mulai dari laptop yang lemot, abis lama-lama bikin design, eh tiba-tiba program nutup sendiri. Belum kesimpan! Hadeh..Ngulang lagi dari awal. “jalanin aja (lagi)“ sambil nunggu program lagi proses booting, saya nonton video vlog yang sekarang lagi rame diproduksi. Vlog atau video blogging mulai berkembang sejak 2004, kemasan yang lebih privasi dari ciri khas vlog jadi daya tarik sendiri. Misalnya channel DOES milik Erix Soekamti. Disana dia bercerita lewat video tentang aktivitas sehari-harinya. Channel itu dibuat untuk mendekatkan dirinya dengan para fans Endank Soekamti. Ada lagi vlog yang saya suka di YouTube, yaitu RVLOGnya Raditya Dika. Hha..

Intinya kita bisa ngepoin mereka setiap hari dari vlognya. Yang buat saya tertarik dari video mereka, karena selalu ada minimal satu hal  yang bisa diambil manfaat tentang pengetahuan dan pengalaman yang bernilai dibalik “panggung” mereka.

Mungkin seperti tujuan saya nulis disini, tapi pesan audio visual jauh lebih menarik dari sekedar tulisan blog. Di vlog, ada dimensi emosi secara intim yang dimainkan. Jadi pengen bikin vlog sendiri. Hhe.. Tapi sebetulnya semua hal yang kita lakukan setiap hari tidak harus diketahui publik. Ada hal yang memang cukup kita saja yang tahu dan alami sendiri.

Many people is over exposed. Bahkan sampai mau kencing aja update status dulu. Kan bahaya semisal kencing di buat vlognya. Hha..








Senin, 25 April 2016

Contekan

Membuat catatan kecil sebelum memberi materi workshop scribble minggu depan mungkin akan sedikit membantu saya. Hhe.. biasanya saya suka lupa apa yang mau disampaikan kalau sudah banyak tanya jawab.

Contekan seperti ini sering saya buat ketika ingin berdiskusi atau presentasi dengan seseorang ataupun banyak orang. Manfaatnya obrolan atau diskusi yang saya bangun akan lebih terarah karena saya sudah punya panduan dan nggak capek mikir apa yang akan disampaikan. Walapun obrolan akan mengalir dengan sendirinya. Balik lagi, contekan akan jadi pemantik diskusi ketika misalnya diskusi tiba-tiba mandek. Hhe..

Selamat pagi..





Minggu, 24 April 2016

Kurang Minum

Kata seorang kawan kalau kepala sakit di bagian belakang, itu tandanya kurang tidur dan kurang minum. Kemarin malam kepala saya sakit di bagian belakang. Mungkin kurang minum air putih. 

Seharian kemarin saya duduk di depan laptop sesekali tidur. Mungkin karena nggak keluar keringat, makanya males minum air putih. Kalau saya hitung sehari kemarin cuma habisin 3-4 gelas. Padahal kebutuhan tubuh idealnya minum air putih minimal 8 gelas dalam sehari. Hadoh..

Saya jadi inget dulu saya pernah baca suatu penelitian yang menyebutkan perbandingan, kalau manusia nggak makan itu masih akan bisa bertahan hidup sampai seminggu. Nah kalau manusia nggak minum ia akan mati setelah dua hari. Minum air putih penting juga ya ternyata. Hhe..

Tapi, kalau malam ini, minum air putih saya banyakin, tapi tidur saya kurangin. Semoga nggak pusing. Hhe..

Ah, pagi suka terlalu cepat datang..
Jangan lupa minum.



Sabtu, 23 April 2016

Lokusioner

Bertutur kata yg baik dan tidak berbicara kotor seharusnya jadi pilihan para elite pemimpin kita, termasuk juga diri kita. Agaknya saya nggak susah untuk menerapkan itu sebab lingkungan masa kecil saya dulu banyak mendominasi saya agar bicara dengan bahasa yang santun.

Seorang tangan besi sekelas Soeharto pun santun dalam berbahasa. Terlepas dari segala kekurangan dan kelebihannya. Filosofinya dalam memimpin ketika itu sangat erat dengan ajaran Jawa (menjunjung tinggi adab sopan santun). Dalam setiap tuturnya mungkin kita akan kesulitan menemukan kata-kata kotor,  kalaupun mungkin ia pernah marah di suatu saat. 

Seorang kawan pernah berkata pada saya,  dalam ruang tertentu di saat menghadapi diplomasi yang rawan kolusi semisal antara aktivis dengan pihak tertentu yang menindas, bahasa santun tak diperlukan Bung. Kita kudu tegas menyatakan sikap. 
Saya nggak terlalu sepakat dengan pandangan itu.  Sebab, bicara kotor pun sebenarnya cenderung menimbulkan kebencian. Dan berbahasa kasar mudah ditiru, sebab itulah cara pertama manusia belajar cara berbahasa-meniru.

Berapa banyak kasus perkelahian pelajar karena saling ejek. Dan berapa banyak orang yang menjadi baik dengan diajarkan dengan hal yang caranya kasar dan tutur bahasa kotor.

Kadang ketika menuturi orang, kita tidak harus bicara banyak. Saya termasuk orang yang pelit bicara ketika sedang memarahi seseorang. Karena pilihan seperti bicara kasar atau mengumpat menurut saya hanya buang-buang energi saja terlebih jadi sia-sia.

Bukankah dalam diri kita ada sifat-sifat ilahi. Sedangkan Tuhan mengajari kita dengan bahasa firman-Nya yang santun.

Kalau menurut sampeyan, gimana?

Jumat, 22 April 2016

Edit

Fiuh.. hari ke-22. Saya masih bergulat dengan tugas edit mengedit. 

Seorang editor akan sering terbiasa mencari kesalahan-kesalahan dari sebuah tulisan. Dan pekerjaan itu ternyata terbawa ke kehidupan sehari-hari saya, bahwa, saya cenderung memperhatikan kesalahan orang maupun saya sendiri. Jadinya suka ngoreksi. Hhe..

Sayangnya, hari ini bukan editing tulisan, tapi desain layout. Hadeh..Kesalahan jadi susah dinilai kalau nggak ngerti dasar keilmuannya. Kesimpulannya, saya kudu belajar lagi (sambil praktek).

Sambil ngeblog, biar nggak jenuh.. Hhe..
Besok masih harus editing lagi, edit skripsi. Eh, Revisi!
Ada yang mau bantu editing skripsi saya?

Semangat pagi..


Kamis, 21 April 2016

Merinding

Hidup cuma sekali, kalau diisi dengan yang bener dan ngelakuinnysa juga bener, yang sekali itu rasanya sudah cukup.

Ya kalau cuma ngomong aja mungkin gampang, nglakuinnya nggak segampang orang bilang. Tapi saya yakin apa yang kita yakini dan ucapkan, ucapan itu akan mengajari kita tentang maknanya. Pengalaman yang akan berbicara kepada kita, kalau kita nggak punya pengalaman, mending jangan banyak bicara. Suatu saat nasihat itu akan menasihati kita juga, kalau kita sadar.

Memang benar. Kita cuma dapat kesempatan hidup ini sekali saja. Jadi sayang kalau jalaninnya biasa-biasa saja, jadi kumpulan manusia yang biasa, hidup, makan, mati dan terbuang. Sebisanya kita kudu jadi sebaik-baiknya. Jadi pribadi yang sebaik-baiknya, nyari teman juga yang sebaik-baiknya. Apapun itu, kita mencari dan mengusahakan yang terbaik. Tentu pakai cara-cara yang bener. Baik itu relatif, yang penting kita nglakuin yang bener. Perkara hasil, kan itu bukan urusan kita.

Hari ke dua puluh satu saya nulis di blog ini, pas dengan tanggal peringatan hari lahir R.A Kartini. Saya mau nulis tentang Kartini ya kok terlalu mainstream. Jadi saya ganti dengan tulisan (lagi-lagi tentang nilai hidup) Hidup cuma sekali.Hhe..

Hidup cuma sekali.

Saya kalau mengulang tiga kata itu jadi kok merinding sendiri. Merinding karena ya, hidup memang sekali saja di dunia. Sebentar malah. ini saja, saya nggak terasa udah nulis di hari ke-21. Besok adalah yang ke-22. Semoga seterusnya saya bisa menulis di blog. Dan cita-cita saya tentang kebiasaan menulis di blog akan segera saya coret dari daftar saya.
Hho.. Betapa menyenangkan proses mencoret-coret itu.
Seperti ketika menggambar scribble. Wakawaka..

Hidup cuma sekali, kalau sampeyan, kesenangan seperti apa yang bisa bikin sampeyan merasa hidup sekali itu sudah cukup?


Rabu, 20 April 2016

SK

Banyak duduk di kursi depan layar monitor kalau nggak sambil  ngemil rasanya nggak lengkap. Dan kurang manis tanpa kopi. Hhe..


Posting foto (Sketsa) Kopi ah..


Selasa, 19 April 2016

Stalking

Kalau kita ingin nyari orang entah itu teman, sahabat, siapapun itu sekarang sudah gampang. Tinggal cari (ketikkan namanya) di Facebook. Kenapa Facebook? sebab semua (paling banyak dan awal) pakai Facebook. Facebook ibarat KTP orang di dunia maya sampai kalau mau Log In ke web atau medidia sosial lain bisa pakai akun FB. hha.. Dunia sudah nggak selebar dulu. Setiap orang pasti punya jejak digital sekarang, tapi mungkin tidak bagi para intelejen negara sebagai pengecualian. Hhe..

Kalau mau mengenal setengahnya, lihatlah profil media sosialnya. Kalau kita mau kenal seutuhnya, kita membutuhkan hidup sehari satu malam bersamanya. Karena sebenarnya, kita tidak mengenal betul orang yang bahkan kita sebut itu teman kita. Apalagi orang baru kita tahu lewat media sosial.
Stalking, istilah yang sering dipakai kita sekarang buat mengganti kata kepo untuk kegiatan mengikuti apa-apa yang ada di media sosial seseorang. Orang yang kepo pasti pinter nyetalking. Biasanya kegiatan ini dilakukan juga oleh orang yang sedang jatuh cinta sama orang yang disukainya. Hhe.. kita nyari tau semua media sosial orang kita sukai. Trus dibuka satu-satu, di-follow dan seterusnya.

Kegitan ini juga bermanfaat dalam banyak hal, termasuk untuk belajar. Misalnya, paling tidak kita bisa mencari tau informasi orang yang sedang ingin kita ajak bekerja sama, atau tujuan yang lain. Akhirnya kita mencari tahu bagaimana orang tersebut di media sosialnya. Kita bisa tahu mungkin informasi bagaimana bahasanya, bagaimana kesukaannya, siapa saja orang yang dikenalnya bahkan gaya berpakaiannya. Semua itu bisa kita temukan di media sosial. Manfaatnya adalah, kita bisa menempatkan diri ketika ngobrol dengan orang yang baru kenal itu tadi. Bahkan kita akan terhindar dari pertanyaan yang sebenernya tidak harus kita tanyakan.

Walaupun begitu, ada juga orang yang nggak bisa stalking atau mungkin males stalking. Akhirnya seperti kemarin, ada yang berkirim pesan di akun media sosial saya dan nanya, “Mas, itu gambarnya pakai teknik apa ya?, trus pakai pulpen apa?”

Hm, mungkin dia belum baca caption saya tulisan tentang scribble, dan mungkin dia belum sempet buka link youtube, belum baca tulisan pertama tentang scribble di blog ini beberapa bulan yang lalu. Hadeh.. kalau menghadapi orang yang males stalking gini yang susah, kudu sabar..

Saya jadi inget-inget lupa, kalau dulu pernah ada berita wartawan yang di “semprot” sama artis gara-gara mempertanyakan hal tentang artis itu yang harusnya wartawan itu sudah tau dan tidak perlu mempertanyakannya. Saking saya lupa namanya siapa.. hhi..

Kalau sampeyen termasuk orang yang suka stalking juga kan, ya?
Hhe..

Senin, 18 April 2016

Salah


Karena takut salah, sedemikian rupa membuat kita jadi nggak inisiatif atau sedikitnya kurang inisiatif. Seperti hari ini, saya melanjutkan membuat mural dengan dibantu beberapa orang secara sukarelawan untuk tugas mewarnai. Saya menyiapkan catnya (membuat warna dengan mencampurkan warna dasar) sedangkan mereka tinggal mewarnai sesuai dengan yang saya inginkan. Saya memberikan instruksi bagian-bagian mana yang harus diwarnai dengan warna yang sama.

Secara sengaja, memang gambar outline saya tidak terlalu tegas, membuat orang lain agak kebingungan misalnya jika diminta mewarnai dan memastikan sendiri batas-batas garis yang boleh dan yang tidak diwarnai. Dalam pembuatan mural, biasanya garis outline yang tegas dikerjakan di bagian paling akhir sebagai kegiatan finishing. Apalagi dalam gambar doole-art, outline merupakan hal penting yang bisa menyelematkan kita dari penilaian kata “jelek”. Termasuk pembuatan doodle-art di media tembok. Proses pewarnaan blok secara detail tidak terlalu penting menurut saya. Toh akhirnya batas antar warna akan ditutup oleh outline pada proses finishing. Hhe..

Tapi, bagi orang perfeksionis, mungkin ini jadi masalah. Guru-guru TK kita dulu pasti pernah mengajarkan kita kalau mewarnai jangan sampai keluar garis. Hadeh.. lagi-lagi pendidikan kita memang membuat kita takut salah. Mewarnai doodle-art di tembok akhirnya jadi terlalu hati-hati.

Kecuali di kertas mewarnai ya. Outline kan memang nggak dibuat lagi. Tugas kita cuma mewarnai. Kalau ini ngemural di tembok!

Gara-gara outline saya yang kurang jelas, jadi timbul masalah kecil bagi mereka yang perfeksionis. Padahal sebenarnya saya memberikan ruang bereksperimen lebih kepada mereka walaupun konsep dasar gambar saya yang buat.

“Mas, bagian ini juga diwarna?

Kalau yang ini sampai mana?

Ini juga?

Ini iya ya?”

Haduh.. memang konsekuensi kalau kita mendelegasikan tugas ke orang lain, kita nggak bisa berekspetasi lebih. If you want do right, do it yourself.

Kurang inisiatif jadinya takut salah. Takut salah akhirnya nggak inisiatif. Karena kita terlalu terbiasa mendapat beban berat (ada hukuman bagi yang salah). Padahal berbuat salah adalah kebiasaan manusia. Kenapa mesti takut salah?

Menjadi benar (menurut orang lain) pun seringkali kesalahan-kesalahan (yang kita tidak ketahui) kudu dilakukan sebagai prasyarat wajib.

Kalau menurut sampeyan gimana?


Minggu, 17 April 2016

Kopi

Syukurnya hari ini saya nggak bisa tidur. Gara-gara kemarin abis minum kopi tiga gelas. Wah kacau.

Gimana caranya biar bisa tidur pulas, sedangkan cafein sedang menjajah saraf motorik saya agar tetap tegang, mata jadi sulit terpejam. Saya sudah matikan lampu supaya lekas tidur. Selang satu jam sama saja malah pikiran terjaga walaupun agak pusing.

Tadinya ngopi di siang, sorenya juga, cuma biar saat buat mural malemnya jadi nggak ngantuk. Ini malah kebablasan nggak bisa tidur, hadeh..

Padahal besok pagi kudu lanjut nge-mural lagi. Kacau.. Kali ini saya harus menyalahkan kopi.

Kalau sampeyan pas insomnia, ngapain?
Saya nulis blog sambil merem. Hhe

Selamat menjelang pagi, (lagi).

Sabtu, 16 April 2016

Nawar

Saya ingin kalau apa yang telah saya capai sampai saat ini jadi hal yang tak disengaja saja. Walaupun mungkin di awal adalah menjadi cita-cita. Sebab ketika saya telah sampai pada apa yang saya inginkan, kesombongan diri saya seolah ingin menjajah akal sehat. Jadi lupa diri.

Pujian, selalu membuat setiap orang bungah. Tapi, nggak terjadi sama Einstein (dia bisa mengatasinya) begitu kira-kira apa yang saya tangkap dari Einstein dari tulisan Goenawan Mohamad dalam CAPINGnya tentang Einstein.

Hha.. saya tertawa dalam hati ketika tau kalau Einstein pernah dapat hadiah berupa cek benilai besar yang hanya ia gunakan untuk pembatas buku, dan bukunya hilang. Ia telah mengatasi dirinya sendiri. Ada bahaya besar memang kalau sampai kesombongan itu yang muncul. Dan salah satu cara Einstein mengatasi itu adalah menawar rendah bayaran yang ditawarkan untuk pekerjaannya. Jadi misal ditawari pekerjaan nulis dengan bayaran 1000 dia nawar ingin dibayar 500 saja.

Suatu saat saya akan mempraktekkan cara itu, hhi..
Mungkin ketika kesombongan diri ini sudah mulai menang seiring dengan kemenangan-kemenangan kecil saya di depan. Dan ketika saat itu datang, saya akan membaca tulisan ini lagi.

Saya termasuk orang yang nggak mumpuni untuk menawar harga soal belanja. Tapi kalau lagi jualan, sulit buat nolak orang menawar harga karya saya. Makanya untuk jualan karya, saya pakai jasa orang lain yang professional (manager saya yang juga sahabat saya). Hhe..


Kalau sampeyan gimana? 

Jumat, 15 April 2016

Nyebrang

Banyak hal yang membuat kita jengkel setiap hari, orang- orang yang nggak sabaran menuntut kita semau mereka. Seperti kepentingan merekalah yang paling utama, yang lain jadi nomor dua. Saya mengerti orang lebih suka didahulukan, ketimbang di-nomorduakan. 

Kemarin malam saya pas lagi di jalan raya, ada mahasiswa mau nyebrang. Dia nyalain tombol lampu merah yang bisa bunyi keras itu, supaya motor atau kendaraan berhenti dan memberikan kesempatan dia untuk menyebrang.
Di malang, terdapat beberapa saja tempat penyebrangan yang ada tombol lampu merah seperti itu. Nggak di semua tempat. Penyebrang jalan bisa memanfatkan fasilitas itu untuk menyebrang agar lebih aman. Tapi, Mbok yo yang ngerti kalau memakainya. Jangan sembarangan asal pencet saja. Penyebrang punya kepentingan untuk menyebrang jalan, yang naik kendaraan juga punya kepentingan sedang menuju suatu tempat masing-masing. Jadi, penyebrang pun nggak selamanya harus diistimewakan. Hak-nya sama dengan pengguna jalan yang lain.

Kemarin malem ceritanya, mahasiswa yang nyebrang itu mencet tombol pas kendaraan lagi rame dan dia sendirian. Dan yang jadi perhatian saya, dia tidak berada di jalur zebra cross  yang tersedia. Malah berada di tempat jauh dari jalur penyebrangan ketika setelah mencet tombol. Akibatnya, ada satu pengendara motor di depan saya tiba-tiba berhenti mendadak lihat ada lampu merah dan bunyi bel keras itu. Di belakang, kendaraan juga sedang padat. Hadeh.. hampir saja saya nyrobot sepeda yang ada di depan saya. Lah wong berhenti tiba-tiba. Mana tahu kalau ada yang nyebrang walaupun ada bunyi bel keras. Kalau seperti penyebrang jalan itu, kan bisa berakibat kecelakaan. Ojo Sekarepe Dewe..(Jangan semaunya sendiri)
Kita harus pintar-pintar menempatkan posisi. Dimana kita berdiri, apakah sudah berada di posisi yang tepat di waktu yang tepat, sikap apa yang pantas kita lakukan. Bukan ingin dilihat siapa yang benar dan salah. Tapi lebih kepada sikap penghargaan kepada kepentingan orang lain. Bahwa jalan adalah milik bersama, kita nggak bisa seenaknya sendiri memanfaatkan fasilitas umum seperti jalan raya.

Saya juga pernah melakukan kesalahan karena ketidaktahuan. Tapi, Saya termasuk orang yang beruntung, bahwa Tuhan telah menutup aib-aib buruk saya kepada orang banyak. Kalau tidak, mungkin jadinya tidak seperti ini. Setiap orang punya sisi buruknya masing-masing. Dan saya bersyukur karena yang ditampakkan Tuhan kepada masyarakat adalah hal yang positif. Mungkin dari itu, ada anjuran supaya kita menutup rapat aib orang, karena menceritakan aib orang seperti makan bangkai saudara sendiri, begitu kata penganjur bilang.

Pygmalion

Berpikir positif, menyikapi sesuatu hal dengan prasangka yang positif juga memberikan dampak positif. Kalau konteksnya si penyebrang jalan tadi, bikin jengkel juga sih.

Hhe.. Mungkin dia nggak ngerti, biarlah..

Saya jadi inget cerita Yunani kuno tentang Si Pygmalion. Seorang pemuda yang selalu berpikir dan bersikap positif terhadap apapun. Bahkan, ketika apel di kebunnya dicuri orang, ia malah merasa kasihan kepada yang mencuri itu. Semua hal yang menimpa dirinya, dipandangnya dari sisi positif.
Suatu ketika, Diceritakan bahwa dia memahat patung seorang wanita (karena dia ahli pahat) dia memercayai bahwa patungnya akan berubah menjadi manusia sungguhan. Banyak dari teman-temannya yang menertawakan. Sampai sang dewa-dewa Yunani karena melihat sikap pygmalion yang arif, selalu berbaik sangka, akhirnya harapan dan doa Pygmalion dikabulkan. Patung hasil pahatannya menjadi manusia sungguhan, konon patung wanita itu telah menjelma jadi wanita tercantik di Yunani kala itu.

Saya pikir, ketika kita bersikap positif, dampaknya akan ada pygmalion effect kepada orang lain. Prasangka baik itu akan menular. Dan mempercayai cita-cita yang besar dengan prasangka positif juga akan membawa kita pada hal-hal yang besar. Karena setiap pekerjaan pasti kita lakukan dengan sebaik-baiknya. Masalah hasil, biar Tuhan yang memilihkan. Bukankah agama menuturkan bahwa Tuhan itu seperti Prasangka hambanya.

Bersikap positif beda konteks dengan memegang ideologi positivisme. Positivisme dalam bahasa saya, lebih cenderung sikap pasrah dengan keadaan tanpa ada respon sebuah usaha merubah (kepada koondisi yang diharapkan). Bersikap positif yakni “menerima kenyataan” dan berusaha sekuat tenaga, menjaga tekad tetap ada serta selalu cerdik mengambil hal positif dari setiap peristiwa.

Tetapi, Kadang kala, bersikap positif juga bertemu pada kondisi yang menuntut kita hanya diam dan menerima. Tanpa harus ada penilaian.

Kalau menurut sampeyan, gimana?







Kamis, 14 April 2016

Candu

Menggambar sudah mencandui akal saya, ibarat orang yang kalau nggak makan sehari, ia kelaparan. Kalau seharian nggak nggambar, badan dan pikiran jadi lesu. Apa saya sedang sakit?  Sedangkan banyak orang di luar sana ingin berada di posisi saya saat ini. Hadeh..
Tolong jauhkan saya dari pena dan kertas.. Hhe..

Selamat pagi..

Rabu, 13 April 2016

Akun

Makin hari makin banyak saja macam start-up, aplikasi, website yang diluncurkan di dunia maya. Seiring kemajuan teknologi dan kemampuan masyarakat untuk membeli smartphone (disisi lain harganya yang semakin terjangkau) memaksa kita bahkan saya memiliki banyak akun. Mulai dari akun email, akun media sosial (facebook, instagram, line, BBm, dst), akun web (ortax.org, 4shared, fiver, kreavi, picsart, dst), di situs berita (kompas.com, tempo.co, dst) hhe.. semua meminta kita untuk membuat akun. Mau nulis di blog seperti ini juga harus punya akun. Minimal akun email. Hha, jaman sekarang aneh kalau kita nggak punya akun email. Jadi, budayakanlah ber-email.

Kalau sudah banyak akun begitu, jadi repot juga mengelolanya. Ya kalau Cuma tiga, empat akun, masih enak saja buat mengingatnya. Nah sekarang satu orang bisa jadi punya lebih dari sepuluh, dua puluh akun di banyak aplikasi dan website. Kalau ada lima belas akun, berarti ada lima belas password. Walaupun beberapa format password antar aplikasi terkadang sejenis, jadi bisa pakai password yang sama. Tapi repotnya ada aplikasi atau web yang format keamanan passwordnya beda. Ada yang minta kombinasi angka misalnya, yang lain enggak. Hadeh.. harus mikir lagi, passwordnya apa. 
Akhirnya saya inisiatif untuk mencatat semua akun yang saya punya beserta passwordnya di sebuah tempat rahasia. Kecuali password rekening tabungan, saya hanya mengukir angkanya di ingatan kepala. 

Mungkin besok-besok masih ada kebutuhan lagi untuk membuat akun. Saya nggak mau repot kalau misal lupa password harus meng-klik “forget password” lalu meresetnya lewat email (karena terlalu sering begitu). Saking Banyaknya! hhe..

Kita adalah masyarakat pengguna. Pengguna layanan (aplikasi, web). Kita sekarang adalah para pendaftar, yang apa-apa kalau kita ingin suatu layanan kita mesti mendaftar (register) dulu. Mau daftar kuliah? Buatlah akun email, siapkan akun tabungan, dan siapkan beberapa password. Mau dapet potongan harga belanja di minimarket? Buatlah kartu member di minimarket yang pelayannya sering menanyakan kepada kita “ada kartu membernya kak?” (yang ini saya belum punya) hhe..

Yang terakhir, kalau mau dapet pemberitahuan terbaru tulisan di blog ini? Silakan ketik alamat email sampeyan di pojok kanan bawah kolom “ikuti”. Hhi..


Kalau sampeyan sekarang punya berapa akun pribadi?

Selasa, 12 April 2016

Re-Install

Salah satu hal yang menjengkelkan selain mendengarkan orang cerewet yang bicara ngalor-ngidul gak jelas itu menurut saya yakni saat kita ngerjain banyak hal di laptop trus laptop kita nge-hang karena banyak virus. Oh men! Virus ibarat dosa, kita nggak bisa mendapat kebaikan terus-menerus kalau diri kita banyak dosa; laptop nggak bisa kerja optimal terus-menerus kalau di dalamnya banyak virus.

12 april ini sebenernya saya mau nulis tentang cerita tanggal lahir saya di akta kelahiran yang salah. Tapi sepertinya itu bukan cerita untuk publik, hhe.. jadi saya urungkan niat itu.
Secara sah, memang saya diakui lahir di tanah Indonesia di tanggal ini dua puluh dua tahun yang lalu. Hadeh,, sudah tua ternyata..hhi

Dua puluh dua tahun hidup, berapa tahun buat tidur selama masa balita? berapa tahun jumlah jam tidur  jika dikalkulasi setiap hari rata-rata tidur selama 7 jam. Waktu efektif hidup yang saya gunakan mungkin tinggal hanya beberapa tahun. Itupun kalau banyak yang saya manfaatkan buat kebaikan untuk diri dan orang lain. Saya menyadari, setiap diri kita bukan manusia yang sempurna, tetapi kita bisa berusaha mencapai kesempurnaan.

Saya tidak berusaha lebih baik daripada orang lain, tapi hanya berusaha lebih baik dari saya sendiri kemarin. Dari situ, barangkali setiap hari saya harus me-reinstall diri saya dengan “aplikasi” yang menjadikan diri saya lebih baik daripada kemarin. Mungkin sikap itu yang nngak saya terapkan di gawai saya, akhirnya banyak program yang kadaluwarsa dan menyebabkan rentan virus, aplikasi banyak yang rusak sebab nggak pernah di upgrade. Laptop jadi lemot, file data skripsi, design kemarin saya mau cetak, lah kok di tempat percetakan filenya di flashdisk jadi hilang kena scan. “Flashdisknya kok banyak virus mas?” Mbak-mbak percetakan bilang. Hadeh..

Harus re-install. Nggak mau mikir panjang, akhirnya saya beli harddisk dengan kapasitas yang lumayan. Data laptop semuanya saya pindahkan ke harddisk eksternal, data di C saya back up, saya simpan juga di harddisk eksternal. Harddisk di laptop saya format bersih, dan terakhir laptop saya re-install windows versi agak terbaru (mau upgrade windows 10, nanti saja. Hhe..)
Bersamaan dengan laptop yang di re-install, saya juga menginstall ulang beberapa pribadi saya yang rusak dan sudah kadaluwarsa hari ini.


Selamat hari lahir buat sampeyan yang lahir di tanggal ini, semoga sisa usia yang belum dijalani menjadi lebih berkah dan manfaat. Amin.
Terima kasih buat orang-orang terdekat saya yang masih mengingat tanggal lahir saya, terima kasih ucapan dan doanya, smoga kita sama-sama senantiasa dalam lindungan-Nya.

Senin, 11 April 2016

Debu

Debu hanya tanda
Adanya angin
Angin itulah yang bernilai..
Mata tanah liat hanya menatap debu;
Melihat angin
Perlu mata yang lain.

[Rumi]


Kita punya mata selain mata untuk melihat, bukan mata kaki, karena ketika berjalan kita kadang masih tersandung, padahal saat jalan udah pakai mata, pun juga mata kaki hanya sebutan tulang persendian di bagian kaki (yang tidak berfungsi untuk melihat). Mata yang sering kita pakai sehari-hari itu mata yang dua di kepala, sarana yang kita pakai untuk membaca tulisan ini. Sedangkan mata yang lain, mata yang telah jarang kita gunakan—mata yang diwakilkan perkataan Rumi, mata untuk melihat angin.

Angin itu hakikat, debu itu materi. Mata melihat debu, tapi debu terbang di depan mata kita, karena angin. Angin seperti manusia, tidak bisa kita lihat hakikatnya dengan mata yang dua. Kalau mau lihat hakikat manusia, pakailah mata yang bisa melihat angin.
Mata batin.

Pagi ini saya masih belajar tentang sketsa mata. Ternyata ada banyak sekali macam bentuk mata. Hadeh..
Kalau pas lagi nyari inspirasi, saya sering melihat (memperhatikan) mata orang yang sedang saya ajak berbicara. Kalaupun misal saya sedang gugup atau tidak percaya diri menatapnya, saya akan melihat bagian diantara kedua matanya. Sesekali memperhatikan gerak bibirnya. Hhe.. Kalau sampeyan gimana?

Selamat menjelang pagi.





Minggu, 10 April 2016

21

Ini hari ke sepuluh saya nulis di blog bulan ini. Kurang sebelas hari lagi, smoga “keterpaksaan” ini di hari ke dua puluh dua nanti berubah jadi “kebiasaan”. Soalnya saya kadung terlanjur memasukkan -menulis blog setiap hari– ke dalam daftar syukur saya. Yakni daftar hal-hal yang membuat saya tersenyum dan bersyukur. Hhe..

Dua puluh satu hari cukup untuk mengukur apakah kegiatan yang dilakukan itu telah menjadi kebiasaan sehari-hari kita (menurut penelitian sih begitu). Tapi, selanjutnya balik juga kepada komitmen kita sendiri di hari ke dua puluh dua dan seterusnya. Kalau setelah sukses di dua puluh satu hari, lalu di hari selanjutnya berhenti juga sama saja bohong. Belajar memang nggak pernah kenal namanya berhenti. Belajar meniscayakan kita kepada yang sifatnya terus menerus sampai tubuh kita kembali (kepada tanah).

Mengubah keterpaksaan jadi sebuah kebiasaan memang susah-susah gampang. Kalau nulis di blog (dengan jumlah kata yang lebih panjang) kadang semangat itu masih naik-turun. Mungkin beda sama orang yang memang menulis blog adalah kewajiban karena pekerjaan. Buat kita yang nggak terbiasa dan mengawali untuk terbiasa pasti akan bertemu di kondisi—dimana rasa malas ditambah dengan nggak ada ide nulis itu akan mencari alasan-alasan kenapa kita nggak harus nulis. Kalau misalnya saya, pas lagi nggak ada ide nulis di blog ini, mungkin saya akan nulis dengan judul “Nggak Ada Ide”. Hhe..
Jujur kepada diri sendiri saya pikir telah menyelamatkan saya dari banyak hal yang membuat saya cemas dan takut. Kalau lagi nggak ada ide buat nulis, jujur saja. Katakan kalau lagi nggak ada ide. Hhi..

Mungkin sikap ini bisa dipakai dalam bidang apapun, nggak harus ada kaitannya dengan tulis-menulis (yang banyak menguras imajinasi dan kreatifitas). Sebab kreatifitas itu tak berbatas. Seperti, Nggak ada ide nulis itu adalah ide tulisan. Hhe..
Yap, jujur pada diri sendiri.

Kalau menurut sampeyan gimana?




Sabtu, 09 April 2016

Benda

Mungkin saat ini saya masih belum jadi lelaki-yang punya kesenangan terhadap benda tertentu. Kalau biasanya lelaki identik mainannya motor, saya masih bermain dengan bangunan imaji saya dalam tumpukan sketchbook. 

Saya suka mengoleksi buku sketch. Mulai dari ukuran kecil sampai yang gede. Kalau lagi ada alokasi belanja lebih, pasti saya enteng banget buat beli sketchbook. Hhe..

Dari yang murah sampai yang harus merogoh kantong lebih dalam. Dan sepertinya kesenangan inilah yang saya punyai saat ini. Bahkan akan menjadi hobi sampai saat tua nanti. Nggak tau aja, kalau udah yang namanya suka, gimana lagi. Ada sensasi pribadi saja kalau bisa ngoleksi buku sketch (skaligus mengisinya dengan gambar sketsa sendiri. Hhe.. beruntungnya saya bisa nggambar, jadi nggak sekedar ngoleksi buku sketch, tapi juga bikin sketsa di dalamnya, lebih-lebih sketsanya juga jadi suatu yang bernilai. Nanti, suatu saaat. Saya yakin itu pasti.
Kalau sekarang, jadi konsumsi pribadi saja, toh buku sketch saya juga masih belum terlalu banyak (sampai puluhan apalagi ratusan). Hhe..

Catatan sketsa, selalu menjadi memori otak kedua saya ketika saya ingin  membuka lembaran-lembaran lama, di suatu ruang, situasi dan kondisi masa lampau yang sangat otentik dan tak terulang. Otentik, karena  perjalanan setiap orang pasti berbeda. Proses kita, pastilah berbeda.

Hadeh, ini kapan sketchbook pesanan saya nyampeknya. Hari rabu kemarin saya beli buku sketchbook baru jenis marka landscape dari jogja secara online, tapi sampai sekarang belum datang juga (sambil menunggu mas-mas JNE).



Kalau sampeyan barang apa yang paling disuka?

Jumat, 08 April 2016

Buku

Saya lihat di rak buku saya yang agak reot berjejer judul-judul buku yang belum saya baca. Kalaupun saya sebutkan judulnya satu persatu dari semuanya, ternyata ada yang sudah saya baca tapi belum sampai selesai. Masalahnya yang nggak selesai itu lebih dari satu, hadeh.. kapan mau selesaiin bacanya?

Nanti dulu, setelah pekerjaan praktis sudah saya lewati. Pikiran juga sudah mulai lapar butuh nutrisi. Paling tidak keinginan untuk membeli buku baru lagi udah ada. Tapi saya sedang menghukum nafsu itu dulu. Saya membeli buku baru ketika judul-judul buku yang terbaca setengah-setengah tadi sudah saya rampungkan. Artinya pekerjaan teknis yang sifatnya paling dekat kudu saya lewati. Baru boleh belanja buku lagi. Huh!


Hm.. mau beli buku apa yo nanti. Sampeyan ada referensi buku bagus?

Kamis, 07 April 2016

Tadi Pagi

Pagi ini tetap cerah, seperti pagi kemarin. Tapi pagi juga memberi sebuah kejutan pada saya. Saya mendapat kabar kalau dua kawan-yang semalam jadi temen ngobrol mengalami kecelakaan parah sampai salah seorang ada yang patah tulang kaki.

Sekitar pukul 12 lewat mungkin kejadiannya. Tadi malam atau tadi pagi, yang saya tau dari mereka, kita bertujuh pulang dari tempat makan. Di perjalanan kita berempat (saya dan seorang kawan, dan dua orang kawan yang kecelakaan) pulang paling terakhir karena tempat kos kami paling jauh dan searah. Kita sempet berhenti di minimarket karena mereka bertiga ada keperluan membeli beberapa makanan dan minuman, sedang saya diluar berada di atas motor menunggu.

Setelah mereka selesai, mereka bertiga keluar, kawan yang bersama saya langsung naik motor saya sedangkan cewek-cewek itu, mereka berdua (yang mengalami kecelakaan) bilang "kalian balik duluan gapapa"
"yawes, kita duluan ya" sahut kawan yang saya bonceng itu.

Akhirnya saya hidupin motor dan langsung antar kawan saya itu ke kosnya. Ketika saya balik ke rumah, Di perjalanan saya juga tak sempat berpapasan dengan dua kawan itu. Seharusnya misal mereka ga jauh di belakang saya, saya pasti berpapasan dengan mereka. Kan tempat kos mereka bertiga berdekatan melalui gang yang sama. (Saya agak lupa mereka masih ngapain ketika meminta saya balik lebih dulu).

Pertigaan tempat kejadian kecelakaan juga tak jauh dari kosan mereka. Artinya, mungkin peristiwa maut itu terjadi saat saya sudah melewati TKP ketika saya balik, atau mungkin saat saya sudah sampai di rumah.

Dan saya baru dengar kabar kecelakaan itu di dari kawan-kawan lain, pagi tadi. Pagi dimana tak biasanya saya nggak ngecek ponsel ketika bangun selepas tidur. Salah satu diantaranya sampai sudah dibawa orang tuanya dirawat ke Surabaya. Sedangkan satunya, kawan yang sering curhat ke saya itu sedang menjalani operasi patah tulang di bagian paha kaki.

Kita berdoa smoga operasinya berjalan lancar, dan kamu segera bisa pulih, kawan.

Maaf. (Dengan perasaan menyesal kenapa tadi malam saya menuruti permintaan kalian untuk balik lebih dulu)

Smoga malam nanti memberi kabar baik.

Rabu, 06 April 2016

Versus

Tagline tahun 2014 itu "semua ada aplikasinya". Nggambar Scribble sekarang juga ada aplikasinya.

Sekarang udah 2016, berarti harus makin canggih kan aplikasinya itu. Dulu saya cuma drawing manual saja, tapi kalau sekarang nggak manfaatin aplikasi juga rugi banget, kan kalau pakai aplikasi pekerjaan bisa jadi lebih cepet. Termasuk urusan nggambar. Saya pakai Autodesk Sketchbook Pro buat nggambar scribble digital.

Karena sejak bulan kemarin saya dapat orderan scribble dari luar negeri untuk design clothing, akhirnya saya juga beralih nggambar digital. Kelebihannya, resolusi gambar coretan bisa lebih besar ketimbang dari hasil scan drawing manual. Dilema memang. Manual versus digital, terlebih saya belum terbiasa dengan nggambar pakai pen tablet. Jadi, hasil coretan kareakternya beda dengan hasil manual. Terasa kaku saja kalau nggambar digital. Hhe.. pelan-pelan ntar juga terbiasa.

Mana yang lebih bagus? Digital apa manual?

Hm, saya pikir pertanyaan itu yang harus diubah. Lah wong nggak sejenis kok disebandingkan. Seperti pertanyaan enak mana rasanya selai kacang dan selai keju? Walaupun mereka sama-sama selai buat isi roti atau kue. Tapi, kebanyakan orang kadung (terlanjur) suka membanding-bandingkan yang berbeda jenis itu. Kan, yang sama belum tentu juga yang senilai.


Ah sudahlah, kalau sampeyan gimana? Digital apa manual?

Selasa, 05 April 2016

Sederhana

Sekarang nyari yang serba sederhana itu makin sulit, mungkin karena hidup makin tidak sederhana ya. Hhe.. walaupun kita sendiri memang mencari yang sederhana, bukan yang muluk-muluk, sama saja sulitnya. 

Begitu juga nyederhanain pikiran, lebih banyak orang yang mikirnya berbelit-belit tuh daripada yang sederhana. Contohnya, kemarin ada yang tanya ke saya gini, mas kalau buat sketsa atau scribblenya pakai pulpen apa biar bagus? Saya mau belajar scribble nih, Mohon pencerahannya.


Hadeh, mau sebut merk, ntar dikira endorse, kan repot. 
“Pakai pulpen yang ada tintanya mas.” Jawab saya sambil nulis sederhana di blog. Hhe..

Kalau menurut sampeyan gimana?

Senin, 04 April 2016

Mestakung

Semesta mendukung, kaya judul film hhe..

Alhamdulillah, secara bertahap apa-apa yang saya niatkan tahun ini berjalan lancar (meski banyak rintangan) tinggal luruskan niat saja deh. Kalau niat udah bener, semesta bakalan dukung. Gitu kira-kira yang saya yakini. 

Saya bukan pemimpi, toh semua yang dibilang hidup di dunia ini lagi tidur- kita terbangun kalau sudah mati. Hmm, mungkin pakai kata wafat aja ya,, kalau kata Pak Ustadz mati itu kan “nikMAtnya wis ganTI” Hhe..
Saya hanya manusia berkaki, berjalan di kaki sendiri, mencari Sang pencipta kaki ini yang katanya Nabi bisa dicari ke dalam diri.

Awali pagi dengan bersyukur, semesta aja senantiasa tafakur.

Selamat Pagi..
Gimana rencana sampeyan hari ini? smoga semesta mendukung.



Minggu, 03 April 2016

Kecil

Menyepelekan hal yang kecil-kecil juga bisa berakibat fatal (besar). Ya walaupun definisi besar kecil setiap orang berbeda. Saya punya kebiasaan yang harus sudah saya ubah seminggu ke depan ini- selalu mencuci kuas setelah memakainya.

Kemarin banyak kuas yang nggak saya cuci ketika selesai nglukis. cuma saya rendam aja di tempatnya. Karena ada kegiatan-kegiatan lain yang kadang besar kadang kecil, akhirnya niat mencuci kuas jadi mangkrak. Akibatnya ya saya tanggung sendiri. Kuas jadi mbrodol (rusak) hhe.. karena terlalu lama terendam di air. Beli lagi duh!

Niat aja nggak cukup sih. Butuh sabun, air dan kemauan nyuci. Selebihnya, Nggak lagi-lagi deh nyepelein yang kecil-kecil.

Kalau sampeyan biasanya gimana?

Sabtu, 02 April 2016

Zeigarnick

Minggu ini saya agak kewalahan dengan beberapa tugas dan pekerjaan yang sudah saya mulai. Ada tugas yang belum selesai-selesai. Hadeh..


Saya sepertinya sedang mengalami apa yang disebut efek Zeigarnick (diambil dari nama penemunya). Sebuah kondisi psikologis dimana saya berusaha mengingat-ingat semua pekerjaan yang sudah saya mulai untuk saya selesaiakan. Menurut teori itu, memang secara alamiah terjadi pada siapapun. Kita cenderung terdorong menyelesaikan apa-apa yang sudah kita mulai.

Baiklah, saatnya membuat daftar tugas.
Rapikan folder laptop;
Buat design kartu nama;
Siapkan gambar untuk web;
Selesaikan orderan scribble;
Revisi Skripsi;

Bahagia saya adalah, ketika bisa mencoret mereka satu per satu dari daftar. Hhe..
Kalau menurut sampeyan bahagia itu apa?


Jumat, 01 April 2016

Tangis

Jika awan tak menangis,
Akankah taman mekar?
Jika bayi tak menangis,
Akankan susu mengalir?
Sang perawat hanya berikan susu kala keras tangismu.
[Rumi]

Kalau mau kebahagiaan tanpa mau melewati kesusahan-kesusahan, nggak ada artinya apa itu kebahagiaan. Kalau sedang menderita, bersabarlah, itu cuma sementara. Penderitaan biasanya menjadi prasyarat kebahagiaan.

Keraskan tangismu J hhe..

Selamat Pagi.