Debu hanya tanda
Adanya angin
Angin itulah yang bernilai..
Mata tanah liat hanya menatap debu;
Melihat angin
Perlu mata yang lain.
[Rumi]
Kita punya mata selain mata untuk melihat, bukan mata kaki, karena ketika berjalan kita kadang masih tersandung, padahal saat jalan udah pakai mata, pun juga mata kaki hanya sebutan tulang persendian di bagian kaki (yang tidak berfungsi untuk melihat). Mata yang sering kita pakai sehari-hari itu mata yang dua di kepala, sarana yang kita pakai untuk membaca tulisan ini. Sedangkan mata yang lain, mata yang telah jarang kita gunakan—mata yang diwakilkan perkataan Rumi, mata untuk melihat angin.
Angin itu hakikat, debu itu materi. Mata melihat debu, tapi debu terbang di depan mata kita, karena angin. Angin seperti manusia, tidak bisa kita lihat hakikatnya dengan mata yang dua. Kalau mau lihat hakikat manusia, pakailah mata yang bisa melihat angin.
Mata batin.
Pagi ini saya masih belajar tentang sketsa mata. Ternyata ada banyak sekali macam bentuk mata. Hadeh..
Kalau pas lagi nyari inspirasi, saya sering melihat (memperhatikan) mata orang yang sedang saya ajak berbicara. Kalaupun misal saya sedang gugup atau tidak percaya diri menatapnya, saya akan melihat bagian diantara kedua matanya. Sesekali memperhatikan gerak bibirnya. Hhe.. Kalau sampeyan gimana?
Selamat menjelang pagi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar