Jumat, 29 April 2016

In Time

Ada yang bilang, jamnya orang Indonesia itu jam karet, maksudnya kebiasaan masyarakat kita (di Indonesia) suka ngaret (molor kaya' karet) nggak tepat waktu kalau lagi bikin janji. Saya sepenuhnya tidak sepakat dengan pernyataan itu. Kan nggak semua, jadi tidak bisa di-generalisir begitu!

Tapi saya pikir ada benarnya juga sih, tadi sore contohnya. Saya ada jadwal ngisi materi kelas karikatur di salah satu lembaga pers mahasiswa. Mereka sepakat untuk mulai jam 4 sore. Saya iya-in. Saya datang pukul 4 lebih 7 menit menurut jam tangan saya sesampainya di lokasi (telat sedikit karena jalanan macet). Eh, pesertanya masih ada yang shalat, padahal shalat ashar kan ada rentang satu jam antara  jam 3 sampai jam 4. Lalu, ceritanya disitu mereka lagi kedatangan tamu dari lembaga yang lain. Saya segera unjuk permisi keluar (supaya nggak mengganggu acara mereka). Dengan maksud lain agar kelas karikatur segera bisa dimulai di ruangan yang lain.

Saya tunggu diluar, eh nggak ada yang keluar juga pesertanya, kan pengurus yang berurusan dengan tamu itu sudah banyak, ini kenapa peserta karikatur masih di dalam pikir saya, akhirnya saya tinggal beli makan. Perut laper seharian belum makan habis begadang. Hhe..
Pas saya balik lagi, masih aja mereka di dalam. Ini yang butuh siapa sih? Saya butuh mereka apa mereka butuh saya? Hadeh..

Akhirnya saya pamit pulang, karena masih ada pekerjaan di jam itu yang mestinya saya kerjakan, tapi mereka menahan saya. Telat! Saya pun mengalah kali ini. Saya ikuti kemauan mereka. Tapi ya dengan mood yang nggak enak karena pikiran saya distract gara-gara sikap bodoh itu. Waktu yang harusnya saya isi dengan materi akhirnya nge-blank terganti dengan ocehan yang harusnya tidak sampai terucap.

Saya pun sebenarnya belum sepenuhnya selalu bisa tepat waktu mengerjakan apapun atau membuat janji kepada orang lain. Tapi, sebisanya saya telah berusaha in time atau datang sebelum waktu janji pertemuan. Waktu itu mahal, bagi saya bukan karena waktu itu adalah uang (karena waktu bukan melulu tentang uang) tapi waktu itu kesempatan, sebuah karunia Tuhan untuk dinikmati dan disegerakan. Sebab, belum tentu kesempatan itu datang dua kali, seperti hidup di dunia kita ini yang cuma sekali. Maka janganlah disia-siakan, berusahalah tepat waktu, atau kalau bisa mendahului waktunya (in time).

Ya, mungkin kita lagi-lagi masuk kategori manusia yang merugi. Entahlah, smoga saja bukan.
Kalau sampeyan, gimana?



Tidak ada komentar:

Posting Komentar