Ada yang bilang, jamnya orang Indonesia itu jam karet,
maksudnya kebiasaan masyarakat kita (di Indonesia) suka ngaret (molor kaya' karet) nggak tepat waktu kalau lagi bikin janji. Saya sepenuhnya tidak sepakat dengan pernyataan
itu. Kan nggak semua, jadi tidak bisa di-generalisir begitu!
Tapi saya pikir ada benarnya juga sih, tadi sore contohnya. Saya
ada jadwal ngisi materi kelas karikatur di salah satu lembaga pers mahasiswa. Mereka
sepakat untuk mulai jam 4 sore. Saya iya-in. Saya datang pukul 4 lebih 7 menit menurut
jam tangan saya sesampainya di lokasi (telat sedikit karena jalanan macet). Eh,
pesertanya masih ada yang shalat, padahal shalat ashar kan ada rentang satu jam
antara jam 3 sampai jam 4. Lalu, ceritanya disitu mereka lagi kedatangan tamu
dari lembaga yang lain. Saya segera unjuk permisi keluar (supaya nggak
mengganggu acara mereka). Dengan maksud lain agar kelas karikatur segera bisa
dimulai di ruangan yang lain.
Saya tunggu diluar, eh nggak ada yang keluar juga pesertanya,
kan pengurus yang berurusan dengan tamu itu sudah banyak, ini kenapa peserta
karikatur masih di dalam pikir saya, akhirnya saya tinggal beli makan. Perut laper
seharian belum makan habis begadang. Hhe..
Pas saya balik lagi, masih aja mereka di dalam. Ini yang
butuh siapa sih? Saya butuh mereka apa mereka butuh saya? Hadeh..
Akhirnya saya pamit pulang, karena masih ada pekerjaan di
jam itu yang mestinya saya kerjakan, tapi mereka menahan saya. Telat! Saya pun
mengalah kali ini. Saya ikuti kemauan mereka. Tapi ya dengan mood yang nggak
enak karena pikiran saya distract gara-gara sikap bodoh itu. Waktu yang
harusnya saya isi dengan materi akhirnya nge-blank terganti dengan ocehan yang
harusnya tidak sampai terucap.
Saya pun sebenarnya belum sepenuhnya selalu bisa tepat waktu
mengerjakan apapun atau membuat janji kepada orang lain. Tapi, sebisanya saya
telah berusaha in time atau datang
sebelum waktu janji pertemuan. Waktu itu mahal, bagi saya bukan karena
waktu itu adalah uang (karena waktu bukan melulu tentang uang) tapi waktu itu
kesempatan, sebuah karunia Tuhan untuk dinikmati dan disegerakan. Sebab, belum
tentu kesempatan itu datang dua kali, seperti hidup di dunia kita ini yang cuma
sekali. Maka janganlah disia-siakan, berusahalah tepat waktu, atau kalau bisa
mendahului waktunya (in time).
Ya, mungkin kita lagi-lagi masuk kategori manusia yang
merugi. Entahlah, smoga saja bukan.
Kalau sampeyan, gimana?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar