Bertutur kata yg baik dan tidak berbicara kotor seharusnya jadi pilihan para elite pemimpin kita, termasuk juga diri kita. Agaknya saya nggak susah untuk menerapkan itu sebab lingkungan masa kecil saya dulu banyak mendominasi saya agar bicara dengan bahasa yang santun.
Seorang tangan besi sekelas Soeharto pun santun dalam berbahasa. Terlepas dari segala kekurangan dan kelebihannya. Filosofinya dalam memimpin ketika itu sangat erat dengan ajaran Jawa (menjunjung tinggi adab sopan santun). Dalam setiap tuturnya mungkin kita akan kesulitan menemukan kata-kata kotor, kalaupun mungkin ia pernah marah di suatu saat.
Seorang kawan pernah berkata pada saya, dalam ruang tertentu di saat menghadapi diplomasi yang rawan kolusi semisal antara aktivis dengan pihak tertentu yang menindas, bahasa santun tak diperlukan Bung. Kita kudu tegas menyatakan sikap.
Saya nggak terlalu sepakat dengan pandangan itu. Sebab, bicara kotor pun sebenarnya cenderung menimbulkan kebencian. Dan berbahasa kasar mudah ditiru, sebab itulah cara pertama manusia belajar cara berbahasa-meniru.
Berapa banyak kasus perkelahian pelajar karena saling ejek. Dan berapa banyak orang yang menjadi baik dengan diajarkan dengan hal yang caranya kasar dan tutur bahasa kotor.
Kadang ketika menuturi orang, kita tidak harus bicara banyak. Saya termasuk orang yang pelit bicara ketika sedang memarahi seseorang. Karena pilihan seperti bicara kasar atau mengumpat menurut saya hanya buang-buang energi saja terlebih jadi sia-sia.
Bukankah dalam diri kita ada sifat-sifat ilahi. Sedangkan Tuhan mengajari kita dengan bahasa firman-Nya yang santun.
Kalau menurut sampeyan, gimana?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar