Karena takut salah, sedemikian rupa membuat kita jadi nggak inisiatif atau sedikitnya kurang inisiatif. Seperti hari ini, saya melanjutkan membuat mural dengan dibantu beberapa orang secara sukarelawan untuk tugas mewarnai. Saya menyiapkan catnya (membuat warna dengan mencampurkan warna dasar) sedangkan mereka tinggal mewarnai sesuai dengan yang saya inginkan. Saya memberikan instruksi bagian-bagian mana yang harus diwarnai dengan warna yang sama.
Secara sengaja, memang gambar
outline saya tidak terlalu tegas, membuat orang lain agak kebingungan misalnya
jika diminta mewarnai dan memastikan sendiri batas-batas garis yang boleh dan
yang tidak diwarnai. Dalam pembuatan mural, biasanya garis outline yang tegas
dikerjakan di bagian paling akhir sebagai kegiatan finishing. Apalagi dalam
gambar doole-art, outline merupakan hal penting yang bisa menyelematkan kita
dari penilaian kata “jelek”. Termasuk pembuatan doodle-art di media tembok. Proses
pewarnaan blok secara detail tidak terlalu penting menurut saya. Toh akhirnya
batas antar warna akan ditutup oleh outline pada proses finishing. Hhe..
Tapi, bagi orang perfeksionis,
mungkin ini jadi masalah. Guru-guru TK kita dulu pasti pernah mengajarkan kita
kalau mewarnai jangan sampai keluar garis. Hadeh.. lagi-lagi pendidikan kita
memang membuat kita takut salah. Mewarnai doodle-art di tembok akhirnya jadi
terlalu hati-hati.
Kecuali di kertas mewarnai ya. Outline kan memang nggak dibuat lagi. Tugas kita cuma mewarnai. Kalau ini ngemural di tembok!
Gara-gara outline saya yang
kurang jelas, jadi timbul masalah kecil bagi mereka yang perfeksionis. Padahal sebenarnya
saya memberikan ruang bereksperimen lebih kepada mereka walaupun konsep dasar
gambar saya yang buat.
“Mas, bagian ini juga diwarna?
Kalau yang ini sampai mana?
Ini juga?
Ini iya ya?”
Haduh.. memang konsekuensi kalau
kita mendelegasikan tugas ke orang lain, kita nggak bisa berekspetasi lebih. If you want do right, do it yourself.
Kurang inisiatif jadinya takut
salah. Takut salah akhirnya nggak inisiatif. Karena kita terlalu terbiasa mendapat
beban berat (ada hukuman bagi yang salah). Padahal berbuat salah adalah kebiasaan
manusia. Kenapa mesti takut salah?
Menjadi benar (menurut orang
lain) pun seringkali kesalahan-kesalahan (yang kita tidak ketahui) kudu dilakukan sebagai prasyarat wajib.
Kalau menurut sampeyan gimana?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar