Banyak hal yang membuat kita jengkel setiap hari, orang-
orang yang nggak sabaran menuntut kita semau mereka. Seperti kepentingan
merekalah yang paling utama, yang lain jadi nomor dua. Saya mengerti orang
lebih suka didahulukan, ketimbang di-nomorduakan.
Kemarin malam saya pas lagi
di jalan raya, ada mahasiswa mau nyebrang. Dia nyalain tombol lampu merah yang
bisa bunyi keras itu, supaya motor atau kendaraan berhenti dan memberikan
kesempatan dia untuk menyebrang.
Di malang, terdapat beberapa saja tempat penyebrangan yang
ada tombol lampu merah seperti itu. Nggak di semua tempat. Penyebrang jalan bisa memanfatkan fasilitas itu untuk menyebrang agar lebih aman. Tapi, Mbok yo yang ngerti kalau memakainya.
Jangan sembarangan asal pencet saja. Penyebrang punya kepentingan untuk
menyebrang jalan, yang naik kendaraan juga punya kepentingan sedang menuju
suatu tempat masing-masing. Jadi, penyebrang pun nggak selamanya harus
diistimewakan. Hak-nya sama dengan pengguna jalan yang lain.
Kemarin malem ceritanya, mahasiswa yang nyebrang itu mencet
tombol pas kendaraan lagi rame dan dia sendirian. Dan yang jadi perhatian saya,
dia tidak berada di jalur zebra cross yang tersedia. Malah berada di tempat jauh
dari jalur penyebrangan ketika setelah mencet tombol. Akibatnya, ada satu
pengendara motor di depan saya tiba-tiba berhenti mendadak lihat ada lampu
merah dan bunyi bel keras itu. Di belakang, kendaraan juga sedang padat. Hadeh..
hampir saja saya nyrobot sepeda yang ada di depan saya. Lah wong berhenti tiba-tiba. Mana tahu kalau ada yang nyebrang
walaupun ada bunyi bel keras. Kalau seperti penyebrang jalan itu, kan bisa
berakibat kecelakaan. Ojo Sekarepe Dewe..(Jangan semaunya sendiri)
Kita harus pintar-pintar menempatkan posisi. Dimana kita
berdiri, apakah sudah berada di posisi yang tepat di waktu yang tepat, sikap
apa yang pantas kita lakukan. Bukan ingin dilihat siapa yang benar dan salah. Tapi
lebih kepada sikap penghargaan kepada kepentingan orang lain. Bahwa jalan
adalah milik bersama, kita nggak bisa seenaknya sendiri memanfaatkan fasilitas
umum seperti jalan raya.
Saya juga pernah melakukan kesalahan karena ketidaktahuan. Tapi,
Saya termasuk orang yang beruntung, bahwa Tuhan telah menutup aib-aib buruk
saya kepada orang banyak. Kalau tidak, mungkin jadinya tidak seperti ini.
Setiap orang punya sisi buruknya masing-masing. Dan saya bersyukur karena yang
ditampakkan Tuhan kepada masyarakat adalah hal yang positif. Mungkin dari itu,
ada anjuran supaya kita menutup rapat aib orang, karena menceritakan aib orang seperti makan bangkai saudara sendiri,
begitu kata penganjur bilang.
Pygmalion
Berpikir positif, menyikapi sesuatu hal dengan prasangka yang positif juga memberikan
dampak positif. Kalau konteksnya si penyebrang jalan tadi, bikin jengkel juga
sih.
Hhe.. Mungkin dia nggak ngerti, biarlah..
Hhe.. Mungkin dia nggak ngerti, biarlah..
Saya jadi inget cerita Yunani kuno tentang Si Pygmalion. Seorang
pemuda yang selalu berpikir dan bersikap positif terhadap apapun. Bahkan,
ketika apel di kebunnya dicuri orang, ia malah merasa kasihan kepada yang
mencuri itu. Semua hal yang menimpa dirinya, dipandangnya dari sisi positif.
Suatu ketika, Diceritakan bahwa dia memahat patung seorang
wanita (karena dia ahli pahat) dia memercayai bahwa patungnya akan berubah
menjadi manusia sungguhan. Banyak dari teman-temannya yang menertawakan. Sampai
sang dewa-dewa Yunani karena melihat sikap pygmalion yang arif, selalu berbaik
sangka, akhirnya harapan dan doa Pygmalion dikabulkan. Patung hasil pahatannya
menjadi manusia sungguhan, konon patung wanita itu telah menjelma jadi wanita
tercantik di Yunani kala itu.
Saya pikir, ketika kita bersikap positif, dampaknya akan ada
pygmalion effect kepada orang lain. Prasangka baik itu akan menular. Dan
mempercayai cita-cita yang besar dengan prasangka positif juga akan membawa
kita pada hal-hal yang besar. Karena setiap pekerjaan pasti kita
lakukan dengan sebaik-baiknya. Masalah hasil, biar Tuhan yang memilihkan. Bukankah
agama menuturkan bahwa Tuhan itu seperti Prasangka hambanya.
Bersikap positif beda konteks dengan memegang ideologi
positivisme. Positivisme dalam bahasa saya, lebih cenderung sikap pasrah dengan
keadaan tanpa ada respon sebuah usaha merubah (kepada koondisi yang
diharapkan). Bersikap positif yakni “menerima kenyataan” dan berusaha sekuat tenaga,
menjaga tekad tetap ada serta selalu cerdik mengambil hal positif dari setiap
peristiwa.
Tetapi, Kadang kala, bersikap positif juga bertemu pada
kondisi yang menuntut kita hanya diam dan menerima. Tanpa harus ada penilaian.
Kalau menurut sampeyan, gimana?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar