Ini hari ke sepuluh saya nulis di blog bulan ini. Kurang sebelas
hari lagi, smoga “keterpaksaan” ini di hari ke dua puluh dua nanti berubah jadi “kebiasaan”.
Soalnya saya kadung terlanjur memasukkan -menulis blog setiap hari– ke dalam daftar
syukur saya. Yakni daftar hal-hal yang membuat saya tersenyum dan bersyukur. Hhe..
Dua puluh satu hari cukup untuk mengukur apakah kegiatan
yang dilakukan itu telah menjadi kebiasaan sehari-hari kita (menurut penelitian
sih begitu). Tapi, selanjutnya balik juga kepada komitmen kita sendiri di hari
ke dua puluh dua dan seterusnya. Kalau setelah sukses di dua puluh satu hari,
lalu di hari selanjutnya berhenti juga sama saja bohong. Belajar memang nggak
pernah kenal namanya berhenti. Belajar meniscayakan kita kepada yang sifatnya
terus menerus sampai tubuh kita kembali (kepada tanah).
Mengubah keterpaksaan jadi sebuah kebiasaan memang susah-susah
gampang. Kalau nulis di blog (dengan jumlah kata yang lebih panjang) kadang
semangat itu masih naik-turun. Mungkin beda sama orang yang memang menulis blog
adalah kewajiban karena pekerjaan. Buat kita yang nggak terbiasa dan mengawali
untuk terbiasa pasti akan bertemu di kondisi—dimana rasa malas ditambah dengan
nggak ada ide nulis itu akan mencari alasan-alasan kenapa kita nggak harus
nulis. Kalau misalnya saya, pas lagi
nggak ada ide nulis di blog ini, mungkin saya akan nulis dengan judul “Nggak Ada Ide”. Hhe..
Jujur kepada diri
sendiri saya pikir telah menyelamatkan saya dari banyak hal yang membuat saya
cemas dan takut. Kalau lagi nggak ada ide buat nulis, jujur saja. Katakan kalau
lagi nggak ada ide. Hhi..
Mungkin sikap ini bisa dipakai dalam bidang apapun, nggak
harus ada kaitannya dengan tulis-menulis (yang banyak menguras imajinasi dan kreatifitas).
Sebab kreatifitas itu tak berbatas. Seperti, Nggak ada ide nulis itu adalah ide
tulisan. Hhe..
Yap, jujur pada diri sendiri.
Kalau menurut sampeyan gimana?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar