Minggu, 10 April 2016

21

Ini hari ke sepuluh saya nulis di blog bulan ini. Kurang sebelas hari lagi, smoga “keterpaksaan” ini di hari ke dua puluh dua nanti berubah jadi “kebiasaan”. Soalnya saya kadung terlanjur memasukkan -menulis blog setiap hari– ke dalam daftar syukur saya. Yakni daftar hal-hal yang membuat saya tersenyum dan bersyukur. Hhe..

Dua puluh satu hari cukup untuk mengukur apakah kegiatan yang dilakukan itu telah menjadi kebiasaan sehari-hari kita (menurut penelitian sih begitu). Tapi, selanjutnya balik juga kepada komitmen kita sendiri di hari ke dua puluh dua dan seterusnya. Kalau setelah sukses di dua puluh satu hari, lalu di hari selanjutnya berhenti juga sama saja bohong. Belajar memang nggak pernah kenal namanya berhenti. Belajar meniscayakan kita kepada yang sifatnya terus menerus sampai tubuh kita kembali (kepada tanah).

Mengubah keterpaksaan jadi sebuah kebiasaan memang susah-susah gampang. Kalau nulis di blog (dengan jumlah kata yang lebih panjang) kadang semangat itu masih naik-turun. Mungkin beda sama orang yang memang menulis blog adalah kewajiban karena pekerjaan. Buat kita yang nggak terbiasa dan mengawali untuk terbiasa pasti akan bertemu di kondisi—dimana rasa malas ditambah dengan nggak ada ide nulis itu akan mencari alasan-alasan kenapa kita nggak harus nulis. Kalau misalnya saya, pas lagi nggak ada ide nulis di blog ini, mungkin saya akan nulis dengan judul “Nggak Ada Ide”. Hhe..
Jujur kepada diri sendiri saya pikir telah menyelamatkan saya dari banyak hal yang membuat saya cemas dan takut. Kalau lagi nggak ada ide buat nulis, jujur saja. Katakan kalau lagi nggak ada ide. Hhi..

Mungkin sikap ini bisa dipakai dalam bidang apapun, nggak harus ada kaitannya dengan tulis-menulis (yang banyak menguras imajinasi dan kreatifitas). Sebab kreatifitas itu tak berbatas. Seperti, Nggak ada ide nulis itu adalah ide tulisan. Hhe..
Yap, jujur pada diri sendiri.

Kalau menurut sampeyan gimana?




Tidak ada komentar:

Posting Komentar